Keutamaan dan Makna Ibadah

Oleh: Abu Ammar al-Ghoyami

Sebagai seorang muslim dan muslimah tentunya kita sudah memahami bila ibadah itu sebuah perintah. Hanya saja, terkadang sebagian kita telah keliru memahami siapa sesungguhnya yang memerintah dirinya untuk beribadah. Ada yang merasa ia diperintah untuk beribadah kepada Alloh oleh orang lain — bisa seorang guru, ustadz, kiai, saudara, teman, atau bahkan orang tua atau suami — sehingga seseorang masih saja enggan beribadah lantaran kekeliruannya memahami dari mana asal perintah ibadah.

Maka sepatutnya diketahui bahwa orang lain siapa pun ia yang menyerukan peribadahan kepada kita hanyalah sebagai penyampai perintah Alloh azza wajalla yang tersebut dalam ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam yang shohih kepada kita semata, sedangkan asal perintah ibadah itu sesungguhnya dari Alloh azza wajalla Dzat yang tidak boleh dimaksiati dengan kemaksiatan apapun. Peran orang lain tersebut telah Alloh sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya):

Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Alloh) dengan jelas. (QS. Yasin [36]: 17)

Maka ketahuilah bahwa Alloh subhanahu wata’ala telah memerintah seru sekalian manusia, tentunya termasuk kita semua, untuk beribadah kepada-Nya semata. Dia azza wajalla berfirman (yang artinya):

Hai manusia, ibadahilah Robbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. (QS. al-Baqoroh [2]: 21)

Masih banyak ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam yang berisi perintah Alloh azza wajalla agar manusia beribadah kepada-Nya semata, namun ayat di atas cukup mewakili semuanya, sehingga jelas bagi kita bahwa perintah beribadah itu dari Alloh azza wajalla bukan dari orang lain. Tugas dan kewajiban kita sekadar memahami dengan benar apa hakikat ibadah yang kita diperintah untuk melakukannya, dan bagaimana kita harus melakukannya?

Fadhilah Ibadah

Ibadah adalah sesuatu yang sangat agung dan begitu tinggi manzilah (kedudukan)nya di sisi Alloh azza wajalla. Ia mempunyai keutamaan yang begitu istimewa, di antaranya:

1.   Puncak kecintaan dan keridhoan Alloh subhanahu wata’ala ada pada ibadah. Alloh azza wajalla telah menciptakan jin dan manusia untuk hikmah ibadah kepada-Nya semata. Alloh subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)

Dalam sebuah hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا.

“Sesungguhnya Alloh subhanahu wata’ala ridho terhadap kalian pada tiga hal dan murka kepada kalian pada tiga hal, Dia ridho terhadap kalian dengan kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun…. (HR. Muslim: 3236 – Maktabah Syamilah)

2.   Dengan ibadah, Alloh subhanahu wata’ala telah mengutus seluruh rosul-Nya. Alloh azza wajalla berfirman (yang artinya):

Dan Kami tidak mengutus seorang rosul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Aku, maka ibadahilah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. al-Anbiya’ [21]: 25)[1]

3.   Alloh subhanahu wata’ala menjadikan ibadah sesuatu yang lazim (harus) ditunaikan oleh rosul-Nya sampai datang kematiannya[2] dan dengan ibadah itu pula Alloh telah menyifati para malaikat-Nya. Alloh subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):

Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk mengibadahi-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. (QS. al-Anbiya’ [21]: 19–20)

4.   Alloh azza wajalla menyifati makhluk-makhluk pilihan-Nya dengan ubudiyyah (penghambaan diri dengan ibadah kepada-Nya, di mana Alloh menyebut mereka dengan sebutan abdun atau ibadun yang berarti hamba yang beribadah kepada-Nya), Alloh menyebut kaum mukminin yang bertaqwa dengan hamba dan mencela mereka yang sombong lagi congkak yaitu yang enggan beribadah kepada-Nya.

Dan hamba-hamba Alloh yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS. al-Furqon [25]: 63)[3]

5.   Alloh azza wajalla menyifati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam rosul-Nya yang paling utama dengan sebaik-baik keadaannya, yaitu sebagai seorang hamba bagi-Nya. Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

Mahasuci Alloh, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…. (QS. al-Isro’ [17]: 1)

Bahkan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam pun sangat bangga dengan apa yang Alloh sebutkan buat diri beliau dengan bersabda:

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah kalian berlebihan dalam menyanjungku sebagaimana kaum Nasrani menyanjung Isa putra Maryam, aku hanyalah hamba-Nya, sebutlah aku ini hamba Alloh dan rosul-Nya.” (HR. al-Bukhori: 3189 – Maktabah Syamilah)

Bila demikian keutamaan ibadah, dan bila Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai imam para nabi dan rosul, manusia terbaik pilihan Alloh subhanahu wata’ala bangga menghambakan diri kepada Alloh azza wajalla dengan beribadah kepada-Nya, selayaknya manusia seperti kita ini lebih bangga dengan beribadah kepada Alloh semata.

Memahami Makna Ibadah

Ibadah secara umum adalah diperintahkan, sebagaimana kita telah pahami, perhatikan perintah Alloh dalam QS. al-Baqoroh [2]: 21 di atas, sehingga secara umum ibadah mencakup semua apa saja yang diperintahkan oleh Alloh subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya dan yang diperintahkan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya, ini yang pertama yang harus kita pahami.

Yang kedua, dalam sebuah ayat al-Qur’an Alloh subhanahu wata’ala memerintahkan kita beramal sholih dan melarang kita dari mempersekutukan-Nya dalam beribadah kepada-Nya. Alloh subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya ilah (yang berhak diibadahi) kamu itu adalah Ilah yang Esa. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Robbnya.” (QS. al-Kahfi [18]: 110)

Sedangkan amal sholih adalah ihsan (seluruh perbuatan hasanah/baik) yang diperintahkan untuk kita amalkan dan Alloh subhanahu wata’ala memuji pelakunya. Ihsan itu sendiri mencakup apa saja yang Alloh azza wajalla dan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam cintai, baik berupa hal-hal yang diperintahkan dengan perintah wajib maupun yang mustahab (disukai dan dianjurkan). Alloh azza wajalla berfirman (yang artinya):

Sesungguhnya Alloh menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Alloh melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. an-Nahl [16]: 90)[4]

Alloh subhanahu wata’ala mencintai dan meridhoi amalan hasanah sehingga Dia azza wajalla memerintah kita menunaikannya, demikian juga Rosululloh mencintai dan meridhoi amalan hasanah sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pun memerintah umatnya untuk menunaikannya.

Yang ketiga, kita ketahui bahwa perbuatan hasanah yang Alloh subhanahu wata’ala cintai dan yang Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam cintai berdasarkan dalil-dalil yang ada meliputi ucapan lisan, amalan jawarih (perbuatan-perbuatan anggota badan) maupun aqidah (keyakinan-keyakinan dalam hati). Perhatikanlah dalil-dalil berikut; Alloh azza wajalla berfirman (yang artinya):

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Alloh”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS. al-Ahqof [46]: 13)

Dalam sebuah hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

“Ada dua kata yang ringan diucapkan oleh lisan namun berat di timbangan (amal) dan dicintai oleh ar-Rohman (Alloh), ialah ucapan ‘Subhanallohil ‘Azhim’ dan ucapan ‘Subhanallohi wabihamdih’.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ayat dan hadits di atas menunjukkan hasanah berupa ucapan lisan.

Dalam sebuah ayat lainnya Alloh azza wajalla berfirman (yang artinya):

Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang ruku’. (QS. al-Baqoroh[2]: 43)

Ayat di atas menunjukkan hasanah berupa perbuatan jawarih.

Dan dalam ayat lain Alloh azza wajalla berfirman (yang artinya):

… akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Alloh, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi …. (QS. al-Baqoroh [2]: 177)

Ayat di atas menunjukkan hasanah berupa amalan hati yaitu keyakinan dalam hati. Dari uraian dalil-dalil yang tersebut di atas diketahui bahwa hasanah meliputi amalan yang lahir (amalan jawarih maupun amalan lisan) maupun yang batin (keyakinan dalam hati).

Dari tiga hal yang telah kita pahami di atas kita bisa menarik sebuah kesimpulan tentang makna ibadah, bahwa ibadah adalah sebuah istilah untuk menyebut segala apa yang Alloh subhanahu wata’ala cintai dan ridhoi, berupa ucapan-ucapan maupun perbuatan-perbuatan (perbuatan jawarih maupun perbuatan hati) baik yang tampak maupun yang tersembunyi, yang lahir maupun yang batin.[5]

Menurut makna tersebut, semua amalan hati dan amalan jawarih maupun ucapan-ucapan lisan, selama ia dicintai dan diridhoi Alloh subhanahu wata’ala, termasuk dalam sebutan ibadah. Dengan ungkapan lain bahwa ibadah ialah seluruh ketaatan, berupa menunaikan perintah dan meninggalkan larangan baik berupa ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin.[6]

Jadi, ibadah tidak terbatas pada beberapa ritual tertentu yang erat hubungannya dengan masjid semata, seperti hanya sholat dan membaca al-Qur’an, melainkan semua gerak-gerik dan suara yang keluar dari lisan, bahkan apa yang ada dalam hati pun bisa termasuk ibadah. Akhirnya, kita memohon kepada Alloh azza wajalla Dzat muqollibal qulub (yang membolak-balikkan hati) hamba-Nya, semoga Alloh menganugerahkan istiqomah ke dalam hati kita sehingga akan istiqomah pula jawarih termasuk lisan kita, Aamiin. Wallohu A’lam bish-showab.


[1]    Lihat juga QS. an-Nahl [16]: 36.

[2]    Lihat QS. al-Hijr [15]: 99.

[3]    Lihat juga QS. al-Hijr [15]: 39–42, QS. al-Insan [76]: 6, dan QS. Ghofir [40]: 60.

[4]    Lihat juga QS. an-Nisa’ [4]: 125

[5]    Ini definisi ibadah yang dipilih oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah. lihat al-Ubudiyyah: 1.

[6]    Lihat Syarhul ‘Ubudiyyah oleh Abdul Aziz bin Abdulloh ar-Rojihi, hlm. 6 dan 58–59.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s