Soal Jawab

Di sinilah ruang tempat Anda para pengunjung yang ingin menanyakan berbagai masalah seputar syari’at Islam, lebih tepatnya sesuai dengan kategori materi yang terdapat pada blog ini. Silakan ajukan pertanyaan Anda dengan cara mengisi kolom komentar di bawah ini. Pertanyaan akan dijawab oleh Ustadz Abu Ammar al-Ghoyami, sebagai pemilik sekaligus penanggung jawab blog ini, Insya Alloh Ta’ala.

47 responses to this post.

  1. Posted by ummu abdirrahman on 10/10/2010 at 6:32 am

    ustadz, sebaiknya anak mondok usia berapa? di kota ana belum ada SDIT yang sunny. lingkungan juga awam. ana ingin anak ana di usia dini , belajar al qur’an dulu, tapi ilmu al qur’an ana juga terbatas, karena ana mengenal manhaj salaf ketika kuliah. jadi utk home schooling ana merasa tdk mampu. Jazaakallhu khoyr.

    Balas

    • Barokallohu fiik.
      Saya turut berbahagia dengan pertanyaan Anti seperti ini. Saya katakan, sebagaimana para ulama kita dahulu memulai belajar dari menghafal al-Qur’an, maka betapa indahnya seandainya kita mengikuti hikmah salaf kita dalam memulai belajar dengan menghafal al-Qur’an. Saya setju sekali bila anak-anak kita memulai belajarnya dari menghafal al-Qur’an. Namun harus diingat, bukan berarti anak hanya diajari menghafal al-Qur’an semata. Kewajiban kita juga mengajarkan kepada anak-anak didik kita bagaimana agar mereka juga segera bisa beribadah kepada Alloh ta’ala.
      Adapun untuk memondokkan anak, maka hendaknya diperhatikan usia kemandirian anak-anak kita. Sebab mondok artinya hidup memisahkan diri dari orang tua. Sehingga jangan sampai anak-anak terbebani derita akibat belum siap mandiri.
      Wallohu a’lam.

      Balas

  2. Posted by Ibnu Affandi on 12/15/2010 at 8:55 am

    Assalamualaikum ustadz,
    Kalau saya tidak keliru ada hadits yang isinya apabila kita tertimpa musibah kita tidak diperbolehkan mengatakan “seandainya aku dulu begini dan begitu tentu tidak akan terjadi seperti ini”
    Bagaimana apabila musibah yang menimpa kita adalah nyata² memang karena kesalahan kita.
    Bagaimana pula sikap kita apabila musibah tersebut terasa berat buat kita hingga kita merasa tidak mampu menanggungnya.
    Jazaakallahu khoiran katsira

    Balas

    • Wa’alaikumussalam.
      Akhi fillah, Ibnu Affandi, yang Antum katankan benar. Ialah kita tidak boleh mengatakan seandainya saya melakukan ini dan itu sebelumnya tentu hal ini tidak akan terjadi. Ini berkenaan dengan usaha yang kita lakukan yang mendapati kegagalan atau terjadi kesalahan dari yang diprediksikan.
      Adapun tentang musibah, maka seluruhnya adalah karena ulah dari yang tertimpa musibah itu sendiri. Alloh ta’ala menyebutkannya di dalam QS. asy-Syura: 30,dan QS ar-Rum: 41. Meski musibah itu kenyataan karena kesalahan kita, kita tetap tidak boleh mengatakan apa yang telah disebutkan di atas. Tetapi istirja’ mengucapkan inna lillahi wainna ilaihi rojiun, dan kembali kepada Alloh agar Dia azza wajalla mengampuni kesalahan kita dan meringankan derita atas musibah kita. Wallohul muwaffiq.

      Balas

  3. Posted by tholibul ilmi on 12/17/2010 at 10:41 am

    assalamu’alaykum, ustadz Abdul Adhim yg semoga dirahmati oleh Alloh, ana ingin bertanya:
    1. apakah bapak tiri/ibu tiri termasuk mahrom?
    2. sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar, tetapi mengapa ana merasa sholat itu tdk menjauhkan ana dari maksiat? ana malah semakin banyak melakukan maksiat?
    3. Bagaimana hukumnya orang yg meninggalkan sholat Jum’at 4 kali secara sengaja? apakah ini mengandung arti bahwa ia telah keluar dari Islam? dan bgmn tobatnya?
    4. Kita dianjurkan utk memakai sutrah ketika sholat, lalu bgmn apabila ada orang yg lewat di depan kita saat sholat, sementara sdh dicegah sebanyak 3 kali tetap memaksa. bagaimana sikap kita yang benar?
    sekian ustadz, pertanyaan dari ana. Afwan bila terlalu banyak. Jazakallohu khoiron…

    Balas

    • Wa’alaikumussalam.
      Akhi fillah. Semoga Allah ta’ala merahmati kita semua. Masya Allah ta’ala. Semoga Allah ta’ala membimbing hati-hati hanif kita menggapai hidayah-Nya. Akhi fillah, ini jawaban ana atas beberapa pertanyaan Antum, barakallahu fiik;
      1. Bapak tiri dan ibu tiri termasuk mahram (yang tidak boleh nikahi). QS. ab-Nisa’: 22. Menikahi ibu tiri termasuk fahisyah, zina, yang sangat keji. Semoga Allah ta’ala memelihara kita darinya. (Majmu’ fatawa wa rosail Ibnu Utsimin, 21/187 soal nmr: 239)

      2. Untuk masalah kedua Antum, ana mengajak Antum dan semua saudara kita yang mampir di sini untuk menjawabnya bersama-sama dengan sedikit faedah yang kita petik dari penuturan para ulama kita. Ulasannya bisa disimak di artikel kategori bersih jiwa suci hati berjudul: “Mengapa menjadi baik itu sulit?” Semoga benrmanfaat

      3. Yang ana ketahui, orang yang meninggalkan sholat jum’at tiga kali berturut-turut karena meremehkannya maka dia munafiq, atau Alloh ta’ala akan tutup mati hatinya sehingga ia akan merugi. Demikian sebagaimana dalam beberpa riwayat hadits. Jadi bukan kafir. Adapun cara bertaubatnya, hendaklah ia segera berhenti dari meninggalkan sholat jum’at, sebagaimana dalam riwayat imam Muslim, kemudian meminta ampunan kepada Alloh ta’ala atas dosanya, tidak mengulanginya lagi, dan berniat akan melakukannya lillahi ta’ala. Semoga Alloh ta’ala mengampuni dosa-dosa kita. Adapun riwayat tentang kafaroh meninggalkan jum’at berupa sedekah maka semuanya lemah (dhoif).

      4. Apabila ada orang yang lewat di depan kita sedangkan kita sedang sholat menghadap dan mendekat sutrah maka kita halangi ia agar tidak melewati depan kita sekuat kemampuan kita. Di bolehkan sampai kita yang mendekat ke sutrah sampai pun harus kita menempelkan badan ke sutrah, demi agar oang tersebut tidak melewati depan sholat kita. Sehingga orang tersebut melewati belakang kita. Ini apabila orang tersebut memang hendak melewati kita sementara tidak ada jalan selain yang kita pakai shoalt tersebut. Dan tidak ada syariat membunuhnya. Makna haditsnya bukan bunuhlah tetapi lawanlah agar tidak melewati depanmu. Wallohu a’lam.

      Balas

  4. Posted by sulih bin muhammad zain al baghui on 12/24/2010 at 9:10 pm

    Bismillah,

    Assalamu’alaykum,

    ustadz Abu Ammar al-Ghoyami, ana ada pertanyaan dalam bab nikah:

    Fenomena di masyarakat ketika seorang hendak menikah kemudian karena
    mendapat suatu halangan yang mendesak sehingga dia harus mengadakan
    pernikahan yang mana oleh pemerintahan disebut dengan “nikah
    sirri”(nikah tanpa KUA)untuk sementara waktu karena kerepotan untuk
    mengurus persyaratan pernikahan bila langsung lewat KUA. Akan tetapi,
    pernikahan itu dilaksanakn secara sah menurut syar’i.

    Kemudian setelah beberapa bulan karena urusan sudah selesai maka dia
    hendak mencatatkan pernikahannya di KUA. Akan tetapi disana dia disyaratkan untuk
    mengulangi nikah lagi(dengan ijab qobul, mahar) yang baru karena
    mereka berpendapat pernikahan sebelumnya “tidak sah”.
    Walhasil kalau memenuhi syarat dari KUA, seolah-olah kita “menikah
    dua kali”.

    jadi,
    1. bagaimanakah sebenarnya status pernikahan yang pertama (tanpa
    KUA), Sah atau tidak?
    2. Kalau Sah, bagaimana dengan pernikahan yang kedua, apakah
    dianggap?
    3. Apakah pernikahan yang kedua mempengaruhi status keabsahan
    pernikahan tersebut sehingga pernikahan tidak sah karena dilakukan dua
    kali?

    Mohon dijelaskan. Jazzakumullahu khoir atas jawabannya.

    Balas

    • Wa’alaikumus salam warohamtulloh.
      Akhi fillah. Ini jawaban ana atas pertanyaan Antum, barokallohu fiikum. Ana katakan, bahwa status pernikahan pertama yang tanpa kehadiran KUA adalah sah menurut syariat, sebagaimana Antum sebutkan juga di dalam uraian pertanyaan Antum.
      Namun, ana mengajak para pengunjung untuk diskusi sejenak.
      Kalau seandainya, pernikahan pertama seperti yang tersebut dalam uraian pertanyaan itu langsung dihadiri oleh petugas dari KUA dan langsung dicatat saat itu, sahkah pernikahannya?
      Ana katakan, tentu semua kita mengatakan bahwa pernikahannya sah juga.
      Lalu, seandainya, pernikahannya ditunda sementara waktu, menunggu semua persyaratan pernikahan yang diminta oleh petugas dari KUA terpenuhi, setelah terpenuhi baru dilangsungkan pernikahan. Seandainya pernikahan saat ini, setelah semua persyaratan yang harus disiapkan terpenuhi, dilangsungkan namun tanpa kehadiran petugas dari KUA, alias nikah “sirri” –menurut yang disebutkan di uraian pertanyaan-, apakah pernikahannya sah?
      Ana katakan, tentu semua kita juga mengatakan bahwa pernikahannya sah juga.
      Terus seandainya, pernikahan tersebut di atas dilakukan di hadapan petugas dari KUA karena persyaratannya sekarang telah terpenuhi seluruhnya, meski sempat tertunda sementara waktu gara-gara menyiapkan persyaratan, apakah pernikahannya sah?
      Ana katakan, dan tentu semua kita juga akan mengatakan bahwa pernikahannya sah juga.
      Bila semua ini telah dipahami, lalu mengapa tidak dilakukan proses yang terakhir ana sebutkan itu, yaitu menunda pernikahan sementara waktu menunggu semua persyaratan yang diminta oleh petugas dari KUA terpenuhi, sehingga pernikahannya sah dan tanpa menimbulkan masalah di kemudian waktu? Termasuk tidak menimbulkan masalah yang kedua, dan ketiga seperti tersebut di dalam pertanyaan. Dan mungkin saja akan timbul lagi masalah keempat dan seterusnya. Inilah permasalahnnya. Sebagaimana disebutkan bahwa setelah beberapa bulan akhirnya semua persyaratan pun bisa dipenuhi, ini artinya memang persyaratan itu sesungguhnya bisa dipenuhi bukan tidak mungkin bisa dipenuhi. Tentunya apabila diusahakan untuk memenuhinya.
      Inilah sedikit diskusi nasihat dari ana. Semoga Alloh ta’ala memudahkan semua urusan kita. Amin.

      Balas

      • Posted by abu aufa on 06/02/2011 at 7:21 pm

        assalamu’alaikum ustadz..
        Ana pernah denger ada istilah “bangun nikah”
        2 orang suami istri di ijab kabul lagi seperti menikah pertama dulu. alasannya, mungkin dalam pernikahan “pertama” nya kurang rukun atau kurang yang lain…
        bagaimana menurut pendapat ustadz

  5. Posted by ummu Aisyah on 12/25/2010 at 10:11 am

    assalamu’alaikum…
    ustadz, sebagai manusia tentunya tidak lepas dari suatu permasalahan. masalah itu kadang2 membuat sakit hati. bagaimanakah cara menghilangkan sakit hati itu secara penuh dan ikhlas semata2 karena Alloh? padahal saya sudah memaafkan tetapi kadang2 sakit hati itu muncul kembali. mohon penjelasannya.
    syukron, jazakallohu khoiron…

    Balas

    • Wa’alaikumussalam…
      Ukhti, fillah. Memang benar, kita sebagai manusia tentu tidak luput dari masalah. Masalah kehidupan akan tetap ada selagi seseorang masih mendapati kehidupan. Masalah akan usai apabila sesorang telah hidup di alam kekekalan di surga kelak.
      Dalam menghadapi masalah memang tidak sama antara satu orang dengan orang lain. Tergantung kedewasaan berfikir, tingkat pemahaman terhadap masalah itu sendiri, dan yang utama sekali ialah tingkat iman dan taqwa yang berbeda.
      Sakit hati yang timbul di dalam hati kita akibat tingkah dan tutur kata orang lain selagi bukan kita sebabnya maka menurut ana itu bukan masalah. Justru itu hal yang akan mengurangi masalah. Bahkan pada suatu keadaan tertentu meski sebab sakit hati itu dari kita maka tetap saja bisa jadi bukan masalah. Bagaimana maksudnya?
      Seandainya ada orang yang mencela kita, tidak harus celaan tersebut menjadikan hati kita sakit. Begitu juga tidak selamanya celaan patut dibalas dengan celaan. Sebabnya justru celaan yang datang adalah “nasihat” yang sangat berharga. Dengan adanya celaan kita bisa berbenah. Membenahi hati sehingga terbenahilah seluruh tingkah polah anggota badan dan luruslah seluruh tutur kata lisan. Bayangkan seandainya tidak ada orang lain yang peduli dengan kita, termasuk tidak mencela kita. Apakah kita akan bisa dengan mudah menyadari bahwa kita masih kotor dan berlumuran sifat serta prilaku yang tercela? Sehingga semestinya orang yang dicela bertambah takut kepada Alloh ta’ala, sebab selama ini ia belum juga bisa lepas dari sifat tercela. Buktinya, masih saja ada orang yang mencelanya.
      Seandainya seseorang merasa telah bersih dari sifat tercela, sehingga ia merasa tidak patut dicela, dengan sebab inilah ia sakit hati, maka siapa penjamin penilainnya bahwa ia tidak memiliki sifat tercela? Apakah dirinya sendiri itu yang menilai bahwa ia tidak tercela sehingga ia merasa tidak pantas lagi dicela?. Perhatikanlah apa yang Alloh ta’ala firmankan berikut ini lalu hayatilah maknanya:
      Dan hanya kepunyaan Alloh-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga). (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya. dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS. An-Najm: 31-32)
      Seyogyanya kita kawatir. Bisa jadi penilaian orang bahwa dirinya telah suci itulah yang justru mematikan hatinya sehingga ia tidak bisa melihat lagi sifat tercela yang menumpuk dan menggunung pada dirinya. Sebab penilaian “suci’ pada diri sendiri merupakan penyakit ‘ujub yang mengikis habis kebaikan dan keikhlasannya.
      Oleh karenanya, semua yang datang dari orang lain ke pada kita tidak selamanya menjadikan kita harus menderita dan sakit hati. Bila kita selalu sakit hati bila mendapati hal-hal yang menyinggung dan benar-benar memukul hati kita, bisa jadi sebab selama ini keikhlasan memang telah hampir tak lagi tersisa. Sebab seandainya hidup ini ikhlas hanya untuk Alloh ta’ala, maka takkan pernah ada kepedulian selain hanya peduli dari penilaian Alloh ta’ala. Karena Dia mengetahui yang lahir maupun yang disembnyuikan di dalam hati. Tentu Dia mengetahui baik dan buruknya diri-diri hamba-Nya, termasuk diri-diri kita. Sedangkan diantara kita, siapa yang mengetahui penilaian Alloh ta’ala atas diri kita? Termasuk kita pun tidak mengetahuinya. Bila demikian, bagaimana kita menyucikan diri kita sendiri di hadapan Alloh ta’ala?
      Bila demikian, saat ada sesuatu yang menusuk hati, sebab memang hati kita pantas tertusuk, semestinya kita berterimakasih bukan malah sakit hati. Dan apabila kita merasa hati kita tidak pantas tertusuk, maka kita pun harus segera istighfar, memohn ampunan Alloh dari sifat ‘ujub yang tercela. Berarti sudah saatnya kita belajar memperbaiki kualitas ikhlas kita. Wallohul muwaffiq.

      Balas

  6. Posted by Ibnu Affandi on 12/31/2010 at 11:23 am

    Assalamualaikum Ustadz,
    Apakah mengadakan ta’lim keliling secara rutin dari rumah ke rumah termasuk bid’ah, Ustadz? Mohon penjelasannya ustadz. Jazakallahu khoiron katsira

    Balas

    • Wa’alaikumussalam, Akhi fillah.
      Akhi, masalah sepertri ini sudah beberapa kali diajukan ke ana dari beberapa jama’ah pengajian, di beberapa tempat dan daerah yang berbeda-beda. Ini menunjukkan bahwa hal ini terjadi tidak hanya di satu tepat saja.
      Ana katakan, memang benar bahwa suatu ibadah akan menjadi bid’ah di antara sebabnya ialah apabila ibadah tersebut dilakukan dengan mengkhususkan waktu tertentu, tempat tertentu, juga tata cara tertentu yang semuanya tidak dikhususkan oleh syari’at. Namun itu semuanya kaitannya dengan ibadahnya bukan dengan lainnya.
      Pada masalah yang disebutkan dalam pertanyaan, apa sesungguhnya hakikat dari ibadah yang ada? Apakah yang dikategorikan ibadah ialah berkeliling dari rumah ke rumah? Atau menempati rumah berganti rumah? Atau menuntut ilmu dari mendengarkan uraian al-Qur’an dan sunnah? Yang mana dari ketiganya yang merupakan ibadah? Jawabannya ialah yang terakhir, yaitu menuntut ilmu syariat dari al-Qur’an dan sunnah itulah yang merupakan ibadah. Adapun berkeliling dari rumah ke rumah, maupun menempati satu rumah dan rumah lainnya bukan ibadah, namun ia hanya sekedar wasilah, sarana penunjang dalam usaha agar bisa disampaikan dan bisa menuntut ilmu syariat.
      Dari sini, apabila seseorang menjadikan berkeliling dari rumah ke rumah adalah ibadah maka ia telah berbuat bid’ah. Begitu juga apabila seseorang menjadikan berdiamnya ia di suatu rumah berganti di rumah lainnya adalah ibadah, maka iapun telah berbuat bid’ah. Sebab ia telah menetapkan sesuatu yang bukan ibadah dimasukkan ke dalam kategori ibadah. Dan apabila seseorang menuntut ilmu syariat, ia tetap melakukannya meski harus dengan berkeliling dari satu rumah ke ruamah yang lainnya, sebab ia memahami bahwa menuntut ilmu syariat wajib sebagaimana memang diperintahkan berdasarkan nas ayat al-Qur’an maupun hadits, berarti ialah ibadah, maka ia telah beribadah dan tidak berbuat bid’ah.
      Kecuali, apabila di rumah-rumah tersebut diajarkan ilmu-ilmu yang menyimpang dari al-Qur’an dan sunnah, maka ia menjadi majlis menuntut ilmu yang bid’ah. Atau dilakukannya keliling dari rumah ke rumah karena hendak menjauhkan kaum muslimin dari masjid-masjid, seperti yang saat ini telah banyak terjadi, di mana kaum muslimin menjauhi masjid-masjid dan lebih mengutamakan tempat-tempat lainnya, padahal masjid merupakan tempat yang paling utama di permukaan bumi, dan merupakan tempat khusus untuk beribadah, maka ia menjadi bid’ah. Atau apabila dilakukannya pengajian berkeliling dari satu rumah ke ruamh lainnya karena ada maksud yang rusak, seperti yang sekarang banyak terjadi berupa menggalang masa untuk melakukan aksi-aksi dibawah tanah, atau untuk menggalang masa pendukung untuk kepentingan partai atau untuk dukungan politik pribadi dan semisalnya maka ia menjadi majlis bid’ah.
      Inilah yang bisa ana sampaikan, semoga bermanfaat. Waiyyakum khoerol jaza’.

      Balas

  7. Posted by bintu on 02/12/2011 at 8:17 pm

    Assalamu’alaikum wa rohmatulloh, Ustadz.
    Ana ingin bertanya tentang beberapa hal,
    1)Mengapa setiap mendengar berita mengenai kematian, hati ana merasa berdebar-debar dan menjadi takut mati. Bagaimana Ustadz agar ana tidak seperti ini? Ana juga merasa tidak enak jika memikirkan hal itu terus. Mohon penjelasannya.

    2)Bagaimana mayit dapat terbebaskan dari hutang2nya sedang ahli warisnya tidak mengetahui kalau mayit tersebut memiliki hutang? atau orang yang menghutangi telah lupa atas hutang2nya? bagaimana cara untuk membebaskan dari hutang2 tersebut?

    Syukron wa jazakumullohu khoiron atas penjelasannya.
    BArokallohu fiik…

    Balas

  8. Posted by hari on 02/16/2011 at 7:12 am

    Assalamu’alaikum
    ustadz,saya adalah karyawan kontrak perusahaan swasta yang kadang-kadang uang gaji tidak cukup buat kebutuhan hidup sebulan,kemudian dalam hati timbul perkataan “ah gaji ga cukup,kurang dan semacamnya, apakah keluhan-keluhan seperti ini batil ? sedangkan yang saya yakini bahwa rezky dari Alloh subhanahu Wata’ala itu sangat luas dan tidak terbatas,mohon nasehatnya dlm masalah ini ustadz ,,

    Jazakallah

    dari saya di BATAM

    Balas

  9. Bismillah.
    Alhamdulillah, ana dan keluarga turut berbahagia dengan adanya blog ustadz, sehingga kita bisa tetap menjalin komunikasi walaupun lewat dunia maya.
    Semoga ALLOH senantiasa memberikan kesehatan dan kesabaran pada ustadz dan keluarga dalam menjalani jalan dakwah ini.

    Yassarollohu umurona wa Barokallohu fikum.

    Balas

    • Alhamdulillah, yang telah memeberikan berbagai sarana bersilatur rohmi bagi hamba-Nya ini.
      Sebaliknya, semoga kesehatan, kesabaran dan kebahagiaan semoga dicurahkan kepada Antum sekeluarga, dan kepada kita semua.
      Saya aminkan doa Antum, Akhi, wafiikum barokalloh.
      Salam dari Ummu Ammar buat Ummu Qonita. Jazakumullohu khoeron.

      Balas

  10. Posted by Ummu Ibrahim on 05/09/2011 at 8:07 am

    Assalamu’alaikum…

    Ustadz, apa sebaiknya yang dilakukan apabila kita teringat masa lalu yang menyakitkan dan menyedihkan? Jika hal tersebut teringat, akan terpikirkan terus dan tidak bisa konsentrasi ibadah.

    Jazakallohu khoiron…

    Balas

  11. Posted by Muhammad Al-furaihani on 05/28/2011 at 6:22 pm

    Bismillah
    ustadz(semoga Allah menjaga anda),ana mau bertanya,
    “seorang teman ana mmpunyai suatu masalah,dimana kedua orang tuanny sdh bercerai,sedang ibuny selalu melarang anak-anakny utk menjumpai bapak mereka.
    Walaupun begitu kadang kala teman ana tsb tetap saja menjumpai ayahny itu sekalipun ibuny telah melarangny krn dia tahu bhw bagaimana pun itu adalah ayah dia yg nntiny akan mnjd waliny ktk ia akan menikah.
    yang kami tanyakan apakah si anak(teman ana)trsbt berdosa krn tdk mengikuti apa yg tlh diperintahkan ibuny utk tdk menemui ayahny?
    utk jawaban ustadz,kami ucapkan jazakallahu khairan katsiran.

    Balas

  12. Posted by abu aufa on 06/02/2011 at 7:26 pm

    Assalamu’alaiku ustadz..

    Ana ada pertanyaan,
    Beberapa hari yang lalu, ana pindah rumah.
    Maksud ana ingin mengadakan tasyakuran dengan mengundang keluarga/handai taulan/kerabat.
    Bagaimana tata cara yang sesuai syariat dalam mengadakan acara semacam itu..?
    Mohon jawabannya..
    Jazakalloh

    Balas

  13. Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh.

    Apabila memang akan memberi manfaat bagi saudara dan saudari kita kaum muslimin dan yang lainnya, maka silakan.

    Waiyyakum khoerol jaza’

    Balas

  14. Posted by ulfa on 06/16/2011 at 12:31 pm

    assalamu’alaikum
    af1 ustadz, ana mau tanya.
    apakah paman (saudara laki-laki dari ayah tiri) juga termasuk mahrom?
    juga bagaimana hukum bersentuhan kulit antara suami dan istri? mksd ana apkh membatlkn wudhu?
    syukron bwt jwbnnya.

    Balas

  15. assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Mau tanya ustadz,
    Makanan dari acara bid’ah (terutama yang mengandung syirik) menurut ulama di antaranya syaikh bin baz, jika daging tidak boleh dimakan.
    Pertanyaan ana, bagaimana sikap kita jika ada tetangga yang memberi makanan tersebut, apakah kita buang saja, atau diberikan pada orang lain?
    Di tempat ana masih banyak acara seperti itu, apalagi di desa sudah jelas acara kenduren tersebut yang mendo’akan adalah dukun-dukun.
    Jazakalloohu khair

    Balas

  16. Assalamu’alaikum
    Ustadz, mau tanya berkenaan dengan sholat tarawih berjama’ah. Syaikh albani menyebutkan ada beberapa cara mengenai pelaksanaannya. Yang ana tanyakan dari cara-cara tersebut adakah riwayat yang paling kuat?
    Di tempat saya dilaksanakan 4,4,3, ada juga yang 2,2,2,2, 3.
    Mohon pencerahannya!
    Jazaakallah khairan

    Balas

  17. Posted by agus wijaya on 10/25/2011 at 8:14 pm

    assalamualikum
    ustadz, ana mau tanya.
    1. apakah benar iman itu bisa bertambah dan berkurang.
    2. bagaimana kiat – kiatnya agar iman kita selalu bertambah / stabil

    Balas

    • Jawaban:

      Wa’alaikumussalam.

      Semoga Antum dan kita semua dalam pemeliharaan Allah ta’ala.

      Benar, iman itu bisa bertambah dan berkurang. Adabeberapa dalil tentang hal ini, seperti firman Allah ta’ala di dalam surat Ali Imron [3]: 173:
      الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

      (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia (yaitu orang Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”.

      Juga firman-Nya di dalamsuratat-Taubah [9]: 124:
      وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

      Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.

      Juga firman-Nya di dalamsuratal-Fath [48]: 4:
      هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

      Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

      Yang dimaksud dengan tentara langit dan bumi dalam ayat di atas ialah penolong yang dijadikan Allah untuk orang-orang mukmin seperti malaikat-malaikat, binatang-binatang, angin taufan dan sebagainya

      Perhatikan beberpa firman Allah ta’ala di atas. Dengan jelas Dia azza wajalla menyebut bahwa iman itu bertambah. Yaitu bertambah keimanan mereka yang telah ada menjadi lebih dari sebelumnya.

      Sehingga ini juga menunjukkan bahwa keimanan seorang yang beriman berbeda dengan keimanan orang beriman lainnya. Yaitu ada yang lebih besar dan ada yang lebih kurang dari yang lainnya.

      Contoh masalah ini, bahwa tatkala ada dua orang mukmin, yang satu rajin sholat lima waktu dengan senantiasa berjama’ah ke masjid dan yang satunya sholat lima waktu hanya dilakukan di rumah atau sesekali saja dia berangkat sholat berjama’ah ke masjid. Padahal dia tinggal tidak juga jauh dari masjid. Kumandang adzan pun senantiasa terdengar oleh telinganya. Maka dua orang yang halnya berbeda ini menunjukkan bahwa iman seorang mukmin yang pertama melebihi iman seorang mukmin yang kedua. Sebab mukmin yang kedua telah bermaksiat dengan tidak menunaikan kewajiban, yaitu sholat berjamaah ke masjid.

      Imam al-Bukhari rahimahullahu ta’ala di dalam Shahih al-Bukhari pada Kitabul Iman membuat bab khusus tentang masalah ini. Beliau rahimahullahu ta’ala menyebutkan: “Bab ziyadatul iman wa nuqshanuhu” artinya Bab bertambah dan berkurangnya iman. Kemudian beliau rahimahullahu ta’ala menyebutkan beberapa ayat sebagai dalilnya, diantaranya ayat yang telah disebutkan di atas, lalu beliau rahimahullahu ta’ala membawakan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan:
      يَخْرُجُ من النَّارِ من قال لَا إِلَهَ إلا الله وفي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ من خَيْرٍ وَيَخْرُجُ من النَّارِ من قال لَا إِلَهَ إلا الله وفي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ من خَيْرٍ وَيَخْرُجُ من النَّارِ من قال لَا إِلَهَ إلا الله وفي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ من خَيْرٍ

      Akan keluar dari neraka seorang yang telah mengikrarkan la ilaha illallah dan di hatinya terdapat iman meski seberat biji gandum sekalipun. Dan akan keluar dari neraka juga seorang yang telah mengikrarkan la ilaha illallah dan diahtinya terdapat iman meski seberat tepung gandum sekalipun. Dan akan keluar dari neraka seorang yang telah mengikrarkan la ilaha illallah dan di hatinya terdapat iman meski seberat dzarrah sekalipun. (HR. al-Bukhari 44 dan Muslim 193)

      Di dalam hadits tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut bahwa iman kaum mukminin berbeda-beda besar dan beratnya. Ada yang berlebih dari yang lainnya ada juga yang lebih ringan dan lebih kecil dibanding iman seorang mukmin lainya. Apabila terdapat yang lebih tentu lazimnya juga ada yang berkurang. Jadi apabila ada iman yang bertambah sebab adanya kelebihan tersebut tentu dikatakan bahwa yang tidak terdapat kelebihan adalah kurang. Sehingga iman itu ada yang bertambah dan juga ada yang kurang.

      Oleh karena itu juga, Imam al-Bukhari rahimahullahu ta’ala pada bab yang beliau sebutkan di atas mengatakan: “…apabila seorang mukmin meninggalkan sedikit saja dari kesempurnaannya maka imannya pun berkurang.”

      Adapun tentang kiat agar iman kita senantiasa bertambah, kita perlu memahami bagaimana iman itu bertambah dan berkurang.

      Asy-Syeikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullahu ta’ala (Syarah Lum’atil I’tiqad hlm. 99) mengatakan: “Dan iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.”

      Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala (kitabul iman, 195) menyebutkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu ta’ala menyebutkan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu mengatakan kepada para sahabatnya; ”Marilah kemari kita menambah iman.” Lalu ternyata mereka masing-masing berdzikir kepada Allah ta’ala.

      Demikian juga yang pernah disebutkan dan dilakukan oleh Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu beserta para sahabatnya, juga oleh Abdullah bin Rawahah radhiyallahu anhu.

      Riwayat di atas menegaskan bahwa iman bertambah dengan amalan ketaatan.

      Apabila iman bertambah dengan amalan ketaatan maka iman harus berkurang dengan kemaksiatan.

      Sehingga bisa dipahami bahwa kiat menambah iman diantaranya ialah:

      1. Dengan senantiasa menambah ilmu, ialah ilmu yang bermanfaat. Yaitu ilmu tentang kitabullah azza wajalla dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. karena hanya dengan ilmu tersebutlah seorang mukmin akan semakin luas perbendaharaan ilmunya tentang amalan-amalan ketaatan. Dengan ilmu tersebut pula, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah, seorang mukmin bisa semakin terpupuk kemauan dan kesungguhannya untuk beramal ketaatan. Perhatikanlah ayat 124 padasurat at-Taubah di atas. Bagaimana al-Qur’an diturunkan adalah untuk menambah iman kaum mukminin.

      2. Dengan memperbanyak amalan ketaatan dan mengajak bersama-sama mengamalkan ketaatan. Diantaranya ialah berdzikir, mengingat Allah ta’ala. Sebagaimana dalam riwayat di atas. Bagaimana para sahabat berupaya menstabilkan iman bahkan menambahnya dengan mengajak bersama-sama melakukan keta’atan, seperti berdzikir dan semisalnya.

      3. Ini juga menunjukkan bahwa untuk mempertahankan stabilnya iman bahkan untuk menambahnya perlu adanya motifasi, dan bisa jadi motifasi tersebut didapati saat sedang bersama kaum sholih yang sama-sama ingin memelihara imannya. Oleh karenaya para sahabat pun berusaha untuk senantiasa bersama-sama di dalam amalan ketaatan. Sebab dengan kebersamaan akan lebih jauh dari keteledoran, sebaliknya akan terus terpupuk semangat menuju kebaikan.

      Dan inilah yang banyak terjadi pada sebagian kaum mukminin, wallahul musyataka, hanya kepada Allah ta’ala kita mengadu, dimana mereka tidak kuasa mempertahankan kualitas iman mereka saat sendirian, akan tetapi di saat yang sama mereka tidak terpikir untuk senantiasa bergaul dengan sesama kaum mukminin yang bersemangat menuju kebaikan. Bila demikian bagaimana ia bisa menambah iman? Jangankan untuk menambah iman, untuk sekedar menstabilkannya saja ia akan kesulitan. Wallahul musta’an.

      Terakhir, sebagai nasihat bersama, bahwa setiap mukmin yang selalu tanggap dengan kualitas imannya, selalu khawatir berkurangnya dan ingin selalu menambahnya, mukmin yang demikian keadaannya ialah mukmin yang paling utama.

      Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala (kitabul iman, hlm. 195) menyebutkan bahwa Abu Darda’ pernah mengatakan: “Sungguh termasuk bentuk kecerdikan seorang hamba ialah tatkala ia senantiasa setia memupuk iman dan memperhatikan bagaimana ia bisa berkurang, dan tatkala ia selalu memperhatikan apakah imannya saat ini bertambah atau justru berkurang juga tatkala ia senantiasa waspada dari setiap tipu daya setan kapan dan bagaimana ia bisa saja menimpanya (kapan saja dan dimana saja).”

      Wabillahit taufiq.

      SOAL JAWAB : Benarkah Iman Bertambah dan Berkurang? Dan Bagaimana Kiat menambah Iman?

      Balas

  18. Posted by betsi on 12/04/2011 at 8:50 pm

    assalamualaikum.wr.wb.
    ustadz, ana kan punya niatan untuk pergi ke pesantren setelah ana lulus sma tahun depan, karena ana merasa ilmu ana masih sangat kurang dalam hal agama, tetapi orang tua ana tidak mengizinkan, beliau menyuruh ana lebih baik bekerja saja dari pada ke pesantren, yang ingin ana tanyakan, bagaimana cara meyakinkan orang tua ana ya ustadz, mohon bantuannya…

    Balas

  19. Assalamu’alaikum.

    Ustadz, saya mau tanya. Bagaimana menghadapi anak yang sulit disuruh sholat padahal dia sudah mahasiswa. Kami sebagai orangtua juga sudah sering mengingatkan serta menasehatinya, dan sudah kami juga sudah mendidiknya sejak kecil. Bagaimana solusi dari masalah kami ini?

    Jazakallohu khoiron atas jawabannya.

    Balas

  20. Posted by Ummu Ibrahim on 12/26/2011 at 9:26 am

    Assalamu’alaikum warohmatulloh..

    Ustadz, kami mau bertanya. Bagaimana cara mendidik anak yang sulit disuruh sholat? Padahal dia sudah mahasiswa. Kami sudah berkali-kali mengingatkan dan menasehatinya, tapi tetap sulit sekali ustadz. Kami sebagai orangtua juga sudah mendidiknya sejak kecil.
    Bagaimana solusinya Ustadz? Kami mohon sekali atas jawabannya.

    Jazakalloh khoir..

    Balas

  21. Posted by iisqomariah on 01/07/2012 at 1:15 pm

    assalamualaikum ustadz,
    ustadz saya mau bertanya…,
    saya akan menikah, tetapi calon suami saya punya trauma masa lalu dengan pacarnya dulu,
    saya selalu saja di tanya apakah saya pernah berpacaran yang tidak wajar / tidak baik, saya selalu di samakan dengan pacar-pacar nya dulu, saya sudah bersumpah tapi dy tetap tidak percaya dan saya di minta untuk melakukan tes segala, jujur saya merasa terhina dengan apa yang dy tuduhkan karna saya tidak melakukan nya, dy selalu berfikir negatif terus sama saya..

    bagaimana cara menghadapi calon suami saya itu ustadz dan bagaimana cara meyakinkan dy kl saya tidak berbuat yang tidak baik dulu ny…

    Balas

  22. Posted by faris di kediri on 01/07/2012 at 6:37 pm

    assalamualikum
    ustadz, ana mau tanya.

    kalau seorang lelaki melamar seorang wanita terus dia menjanjikan akan menikahi selang setahun lagi,dengan alasan mengmpulkan uang dahulu,tetapi dia tetap berhubungan layaknya seorang pacaran,apakah seperti ini dibolehkan?

    Balas

  23. Posted by ummu 'iisa on 01/13/2012 at 5:22 pm

    Assalamu’alaikum ustadz.

    saya seorang ummahat pernah menjodohkan
    temen saya seorang akhwat dengan ikhwan teman suami saya. keduanya
    sama2 bermanhaj salaf, kami berharap siapa tahu Allah menjadikan ini
    sebagai jalan perjodohan keduanya.

    namun ditengah jalannya proses
    ta’aruf, muncul pihak ketiga seorang akhwat yang mengaku pernah
    dizinai si ikhwan di masalalunya. semua dia teror, dia mengetahui semua
    jalan untuk menghubungi kedua pihak yang sedang berta’aruf,
    keluarganya, saya, juga suami saya. semua ikut terkena terornya. makin lama
    terornya makin parah sampai bisa dikatakan mengganggu kehidupan semua
    pihak. mulai dari sms perkataan tak senonoh, telepon, missed call, spam, dll. kedua pihak yang berta’aruf hendak melaporkan ke pihak berwajib
    tapi urung dilakukan karena takut si penteror makin nekat, serta banyak pertimbangan yang lain. teror-teror
    yang dia lontarkan ke akhwat teman saya dibantah semua oleh ikhwan
    teman suami saya, semua itu dusta katanya. wallahu a’lam.

    pertanyaan saya,
    apa yang sebaiknya kedua pihak yang sedang ta’aruf itu lakukan?
    sekarang keduanya hampir putus asa melanjutkan proses ta’aruf karena
    kejamnya teror itu, yang berakibat keluarga si akhwat khawatir keselamatan akhwat itu. padahal sebetulnya keduanya sudah merasa sama-sama cocok.
    apa pula yang harus saya lakukan? karena setahu suami saya, ikhwan
    temannya itu anak yang baik selama ini, walau suami saya tidak
    mengetahui masa lalu ikhwan tsb.

    jazakumullahu khoiron.
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Balas

  24. Assalamu’alikum, Warahmatullahi wabarakatuh,..
    Ana mahu tanya tentang sikap kehati-hatian kita dengan adanya tanyangan televisi dua dunia yang ternyata pelakunya ust. dalam menjelaskannya juga berdasarkan dalil, kalau yang dunia lain memang tidak boleh ditonoton karena para pelakunya para normal, yang berbicara menurut hawa nafsunya. dan apakah boleh memasukkan jin kedalam tubuh manusia [mediumisasi], kemudian berdialog?

    sukron,…

    Balas

  25. Posted by muhd faiz basir on 02/11/2012 at 7:11 pm

    apakah hukum menghadiri perayaan kaum lain disamping menyambut perayaan kaum lain itu di rumah ibadat mereka…??????

    Balas

  26. Posted by Dias on 04/03/2012 at 11:57 am

    Assalamualaikum ustadz,

    Saya ingin bertanya dalam memilih jodoh diutamakan yang agamanya baik. Bagaimana seandainya jika agamanya kurang baik??

    Balas

  27. Posted by Idias Rati on 04/03/2012 at 11:59 am

    Assalamualaikum ustadz,

    Saya ingin bertanya. Jika dalam memilih jodoh diutamakan yg baik agamanya. Bagaimna jika agamanya kurang baik??

    Balas

  28. Posted by Husnul Khotimah on 04/05/2012 at 7:49 pm

    Assalamualaikum
    Saya mau nanya kalo buku fikih wanita yang paling shaih yang dapat jadi rujukan apa ya? kalo ada, bisa disebutin judul buku dan pengarangnya.
    lalu untuk buku tentang cerita sahabat dan tabiin yang paling shaih apa?

    Balas

  29. Posted by Dwiki on 04/06/2012 at 5:30 pm

    Assalamu’alaikum Wr. Wb
    Saya Dwiki, Saya ingin bertanya sesuatu Ustadz
    Dulu sewaktu kecil (Belum bertaubat) saya pernah mengambil sebuah spanduk iklan di sebuah toko hp. Beberapa tahun kemudian setelah saya sudah besar (Sudah Taubat) saya berencana ingin mengembalikan tetapi spanduk tersebut sudah hilang dan toko yang semula adalah toko hp sekarang sudah berganti menjadi toko pakaian. Mohon bantuannya Ustadz

    Terima Kasih
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb

    Balas

  30. assalammualaikum wr wb aku hanya manusia biasa yang masih banyak dosa,pak ustad kenapa saya belum punya pendamping,padahal saya sudah waktunya untuk menikah,dulu aku pernah berpacaran tapi putus melulu kurang lebih 4kali,ditolak kurang lebih 8kali,pak ustad kiat-kiat mencari pendamping apa saja?trus apa sih arti sholehah menurut rossulluloh?sebenarnya apa sih yang diharapkan oleh seorang perempuan terhadap cowoknya?trima kasih

    Balas

  31. assalammualaikum wr wb pak ustad mau tanya nich sekarang ada banyak orang yang mengaku telah bermimpi ketemu dengan nabi Muhammad saw,trus begaimana cara untuk membuktikan bahwa orang itu benar atau tidak benar telah bermimpi,trus ciri secara fisik khasnya orang tersebut apa?

    Balas

  32. Posted by wati on 05/19/2012 at 6:22 pm

    Ass ustad,saya mohon nasihat dan pendapat ustad mengenai masalah yang telah lama saya hadapi.Tahun 2005 saya baru tahu suami saya ternyata selingkuh dengan teman kerjanya dari tahun 2004.Pada saat itu kami masih tinggal dengan orangtua suami,waktu kejadian suami pergi dari rumah&saya pulang ke rumah orangtua saya.Tapi setelah 3bl saya kembali ke rumah mertua dengan harapan suami juga pulang ke rumah orang tuanya.Dengan saya lebih mendekatkan diri pada ALLAH,berdoa memohon pertolongan ALLAH akhirnya perlahan-lahan suami kembali ke rumah,proses itu berjalan dari awal 2007 yang akhirnya benar2 kembali berkumpul juli2011,tapi di bulan itu juga saya baru mengetahui klu suami ternyata udah nikah sirri dg wanita itu tapi di luarkota dengan bantuan teman2 kerja mereka,wali nikah adik bungsunya tanpa diket kel wanita itu pula wlu ayahnya telah tiada,wanita itu msh punya kakak laki-laki 2orang.BAGAIMANA STATUS PERNIKAHAN MEREKA?
    Pada juli2011 kakak laki2 wanita itu datang ke rumah menuntut suami tuk bertanggungjawab menikahi wanita itu secara sah di KUA krn kel wanita itu juga kaget & baru mengetahui mereka telah menikah sirri setelah wanita ini hamil 7bln.Ternyata mereka menikah april2006 & selama ini wanita itu tetap tinggal di rumah orangtuanya,suami kost.Jadi mereka berhubungan hanya di waktu jam kerja.
    Saat ini wanita itu dah melahirkan sept2011 & ibu wanita itu meminta suami menceraikan saya.Saya pun akhirnya ikut diteror,akhirnya suami keluar dari tempat kerjanya karena suami benar2 tak bisa ambil keputusan wlu saya telah bicara klu memang suami akan ceraikan saya,saya berusaha akan ikhlas&sabar yang penting saya tidak di poligami krn saya sangat trauma dg kehidupan poligami.
    Saya bingung ustad kog tumben suami yg biasanya tegas kali ini benar2 mati kutu,akhirnya saya mencari informasi tentang wanita ini ke tempat tinggalnya dg mendatangi ketua rt & rw ternyata pergaulan wanita ini sangat tak baik.Wanita itu disebut gadis tapi dah punya anak sebelum melahirkan yg ini,disebut janda tapi statusnya memang belum pernah menikah.Ketua rw sampai bicara klu pacarnya bukan suami saya saja.
    Saya hrs bagaimana ustad?krn klu orangtua saya menginginkan suami mengambil keputusan yg pasti sblm ramadhan ini.Klu pilih saya talak wanita itu krn menurut pendapat orangtua saya pernikahan mrk sah secara agama.
    Alhamdulillah ustad,saya sangat bersyukur skl krn dg datangnya cobaan&ujian ini saya semakin dekat dg ALLAH,ibadah saya meningkat,saya akhirnya berjilbab & saya jadi lebih mengerti arti kehidupan yang sebenarnya.Yang pasti saya jadi lebih mensyukuri atas nikmat yang ALLAH berikan selama ini.
    Saya mohon pendapat & nasihat dari ustad mengenai mslh saya ini.
    Wassalam Mu A’laikum wr wb

    Balas

  33. bismillah
    assalamu’alaikum
    afwan ust ana mau nanya tentang hadits abu daud, yang rosulullah mengambil surat dari akhwat dari belakang tirai, ana gx hapal haditsnya tapi ini merupakan subhat dalam bersalaman dengan wanita ajnabiyah, jadi mohon penjelasannya?
    syukron, barakallahu fik

    Balas

  34. Posted by umu ukasyah on 02/22/2013 at 8:10 am

    Assalamualaikum ustad
    ada sepasang suami istri yg terus melakukan dosa besar yaitu berhubungan ketika haid, apakah si suami harus membayar kafarat ustad sedangkan suami tersebut tidak mampu dan si suami juga tidak memaksa istrinya untuk melakukan itu.. ?
    sukran ustad

    Balas

  35. Posted by Debi yaniardini on 07/01/2014 at 7:41 am

    Assalamualiakum..
    Saya punya cerita pak.. pada bulan ramadhan anak ingin pulang ke desa waktu lebaran nanti (rumah istrinya) tapi dilarang sama ayahnya, dia bilang “ngapain pulang ? Yasudah pulang sana, tapi kalo ada apa* minta saja sama saudara* mama mu, gausah minta ke ayah sama mama lagi !” Sambil marah* ayahnya. Lalu anaknya menjawab “kenapa gaboleh yah ? Kan silaturahmi niatnya, orang juga setahun sekali njenguk nenek sama kakek” Ayah diam gak ada jawaban.
    Pertanyaannya niih pak : bolehkah sang ayah bersikap seperti itu ? Yang melanggar anaknya ?
    Makasih ((:

    Balas

  36. Posted by Tri hartanti on 08/16/2014 at 12:50 pm

    Assalamu’alaikum …..
    kalau wanita keluar rumah untuk kerja, kuliah, atau ke toko buku itu boleh kah? syuron

    Balas

  37. Posted by sunny on 04/22/2015 at 8:49 am

    Assalammualaikum, ustadz says may bertanya apakah tdk diwajibkan bagi mualaf laki laki dewasa yang takut berkhitan ? Apakah ada suratnya atau hadits yang menuliskan tentang kewajiban berkhitan? Kenapa ada hadits yg menyunahkan Dan ada yg mewajibkan? Apakah benar Rasulullah mengharamkan laki laki Dan wanita yg tdk berkhitan meskipun mereka suami istri ,dikarenakan kl tdk berkhitan mereka berdosa? Mohon pencerahannya. Terima kasih. Wassalam.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s