Menuai Pahala di Usia Senja

Ustadz Abu Ammar al-Ghoyami

Seandainya kehidupan manusia di dunia ini diepisodekan, mungkin bisa kita bagi menjadi enam episode; mulai episode balita, anak-anak, remaja, dewasa, tua dan episode lanjut usia. Lanjut usia merupakan episode terakhir dari kehidupan dunia seseorang yang apabila diibaratkan seperti putaran hari maka ia menggambarkan saat-saat menjelang matahari terbenam, dimana sebentar lagi, entah sesaat atau dua saat lagi kita pun akan meninggalkan dunia menuju akhirat yang belum kita ketahui gelap terangnya, tidak seperti matahari yang meninggalkan siang yang sudah jelas menuju waktu malam yang gelap.

Setelah sekian puluh tahun menjalani kehidupan dunia yang merupakan perniagaan antara untung dan rugi, usia senja kita saat ini merupakan saat dimana tidak ada lagi hal yang lebih penting bagi kita selain bekal amalan yang cukup untuk menggapai kerohmatan Robbul ‘alamin azza wajalla.

Sudah saatnya kita bertaubat dan ber-istighfar (memohon ampunan) atas segala dosa dan maksiat yang dulu pernah kita lakukan, baik yang kita sadari maupun yang sangat banyak diantaranya yang tidak kita sadari. Sudah saatnya kita berharap-harap cemas di hadapan Alloh azza wajalla dengan memperbanyak amal sholih; berharap diterimanya amal sholih kita, dan cemas bila saja amal yang telah kita lakukan tidak diterima oleh-Nya. Sudah saatnya kita mempersiapkan pundi-pundi amal sholih untuk mengumpulkan pahala dan mengharap rohmat-Nya azza wajalla.

Barangkali sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam berikut bisa menjadi salah satu pelita bagi kita:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

”Bila seorang manusia telah meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara; shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang berdo’a untuknya”.[1]

Bila kita memiliki ketiga pundi-pundi amalan tersebut dan mampu melakukan semuanya maka sungguh itu merupakan sebuah kebaikan di atas kebaikan. Namun, bila hanya sebagiannya saja yang bisa kita tunaikan, jangan bersedih juga jangan berduka, istighfar dan yakinlah bahwa sungguh masih banyak pundi-pundi amal lainnya yang sanggup kita tunaikan dengan ma’unah (pertolongan) Alloh subhanahu wata’ala.

Patut kita simak sebuah riwayat yang harus kita perhatikan dan kita ambil faedahnya yang sangat agung dan manfaatnya yang begitu besar bagi kita. Yaitu tatkala Robi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu anhu, seorang sahabat yang mulia, bermalam bersama Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia datang kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sambil membawakan air wudhu untuk beliau dan beberapa keperluan beliau. Saat itu beliau mengatakan kepadanya: “Mintalah sesuatu!” Dengan penuh semangat dan harapan yang kuat, Robi’ah radhiyallahu anhu memohon kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bisa mendampingi beliau di Surga kelak. Mendengar permintaan Robi’ah radhiyallahu anhu, beliau ingin meyakinkannya dengan bertanya kepadanya: “Atau kamu minta yang lainya?” Robi’ah radhiyallahu anhu pun dengan mantap menjawab: “Tidak, ya itulah (permintaanku)”. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengabulkan permohonannya seraya memberitahukan kuncinya dengan sabda beliau:

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bila demikian, bantulah aku supaya bisa memenuhi permintaanmu dengan kamu memperbanyak sujud (yaitu sholat)”.[2]

Sholat! Ya, hanya sholat. Itulah yang disebutkan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Robi’ah bin Ka’ab radhiyallahu anhu, sebuah kunci untuk bisa mendampingi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam di Surga. Semoga bila kita melakukannya akan mendapatkan seperti apa yang didapatkan oleh Robi’ah bin Ka’ab radhiyallahu anhu.

Sungguh betapa cerdasnya sebuah pasutri yang di usia senjanya mampu meraup segudang bahkan bergudang-gudang pahala dari amal sholihnya. Kita memohon ma’unah kepada Alloh azza wajalla semoga kita mampu melakukannya, Amin.

 


[1]  HR. Tirmidzi: 1297 dari Abu Huroiroh, dan Imam Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih, dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullahu ta’ala dalam Shohih Sunan at-Tirmidzi: 1376

[2]  HR. Muslim: 754

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s