Istriku Tak Kunjung Hamil

Oleh: Ust. Abu Ammar al-Ghoyami

Problem kehidupan suami istri begitu beragam. Banyak sekali penyebab serta pemicunya. Adakalanya sebab tidak adanya rasa cinta, tidak harmonisnya langkah mereka berdua, akhlak yang buruk, ekonomi keluarga, orang tua dan mertua, anak-anak dan lain sebagainya. Sebab yang terakhir ini pun beragam. Ada suami istri yang mendapati problem rumah tangga berupa anak-anak durhaka yang sulit diatur, ada juga yang menderita sebab anak yang sangat mereka cinta meninggal dunia mendahului mereka, adakalanya suami istri atau salah satu di antara mereka begitu menderita sebab Alloh belum juga memberikan anak kepada mereka. Apapun problem yang dihadapi, yang terpenting ialah bagaimana suami istri memecahkannya dengan cara yang baik dan diridhoi Ilahi Robbi azza wajalla.

Terkadang ia begitu menderita

Masalah belum mendapati keturunan merupakan problem yang banyak menimpa suami istri. Bahkan tidak sedikit suami istri yang terpuruk dalam penderitaan sebab si istri belum juga hamil. Layak bila dikatakan bahwa masalah ini begitu menderitakan.

Bila suami menderita sebab belum mendapat karunia seorang anak, bisa jadi si istri justru lebih menderita lagi. Menilik bahwa sifat hamil dimiliki oleh si istri, maka wajar bila ia lebih menanggung derita ketimbang suaminya. Istri merasa lebih tertekan batinnya saat ia mendapati para wanita sebayanya atau bahkan yang lebih muda darinya sudah mendapati si kecil yang berceloteh digendongnya. Belum lagi pandangan tetangga sekitar, teman dan yang lainnya yang memandang sebelah mata terhadap dirinya sebagai sosok wanita mandul yang tak bisa memberi keturunan. Meski kenyataannya tetap ada juga yang memandangnya dengan penuh keibaan lantaran mereka belum juga dikaruniai keturunan. Ditambah lagi, kerap kali ia mendapati wajah suami menyimpan keinginan yang begitu mendalam untuk segera menggendong anak yang dilahirkan olehnya. Lengkap sudah penderitaan istri manakala suami terlihat begitu kecewa dan seakan–akan ia mengatakan, “…akan tetapi kamu tidak juga bisa melahirkan anakku.”

Semuanya Terjadi dengan Takdir Alloh subhanahu wata’ala.

Kenyataannya, memang suami istri itu berbeda-beda.Adayang baru menikah beberapa pekan saja si istri sudah hamil.Adayang setelah sebulan atau beberapa bulan yang belum lama si istri sudah hamil.Adayang sampai berbulan-bulan si istri baru hamil. Bahkan ada yang sampai menunggu bertahun-tahun baru hamil. Pendeknya, masalah hamil dan tidaknya istri bukan kuasa pasutri itu sendiri, sebab hal itu merupakan takdir Alloh azza wajalla. Jadi, suami istri harus menyadari bahwa hamil atau tidak hamilnya si istri itu merupakan takdir Alloh subhanahu wata’ala. Alloh menguji sebagian manusia dengan kemandulan, dan menguji sebagian yang lainnya dengan anak-anak perempuan yang banyak serta menguji sebagian yang lainnya lagi dengan anak-anak laki-laki yang banyak. Alloh azza wajalla juga menguji sebagian manusia yang lainya dengan anak laki-laki sekaligus anak perempuan yang banyak. Alloh azza wajalla berfirman:

Kepunyaan Alloh-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (QS. asy-Syuro [42]: 49-50)

Penderitaan yang wajar

Kenyataan lainnya, meski pasutri telah memahami takdir tersebut, namun sudah menjadi fitrah manusia menyukai harta dan anak-anak, sehingga wajar bila pasutri benar-benar mengharap kehadiran seorang anak. Sebab selain merupakan tuntutan fitrah, anak juga merupakan karunia Alloh yang diberikan kepada pasutri dari balik hikmah sebuah pernikahan. Alloh azza wajalla berfirman:

Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu,… (QS. an-Nahl [16]: 72)

Jadi, sebuah hal yang wajar bila pasutri menderita sebab belum juga dikaruniai anak. Justru tidak wajar bila pasutri berputus asa dari karunia Alloh yang Mahaluas sehingga tidak lagi memiliki harapan akan mendapatkan anak. Sungguh hal ini di luar fitrah dan lepas dari hikmah pernikahan.

Tawaran Solusi

Dari uraian di atas, kiranya tidak ada yang memungkiri bahwa tidak hadirnya anak di dalam sebuah rumah tangga memang sebuah masalah yang perlu dipecahkan dengan sebaik-baiknya. Beberapa gagasan berikut mungkin bisa menjadi solusi yang baik:

1. Banyak bersabar dan berdo’a

Bila keadaan seperti ini yang menimpa Anda berdua, maka sebagai istri harus banyak bersabar dan berdo’a serta banyak-banyak berharap pahala dari Alloh atas apa yang menimpanya. Semua ini hanyalah cobaan semata. Kuatkan do’a dan berharap hanya kepada Alloh agar diberi karunia anak.

Perhatikan bagaimana Nabi Zakariya alaihis salam berdo’a. Dengan ketulusan dan ketundukan, beliau panjatkan do’a, sehingga Alloh pun memperbaiki organ reproduksi istri beliau menjadi bisa mengandung dan melahirkan seorang anak, ialah Nabi Yahya alaihis salam.[1]

2. Sabarkanlah Suami

Seorang istri yang memang belum bisa memberi keturunan buat suaminya hendaknya berusaha dengan maksimal agar suaminya pun bisa bersabar. Dengan sifat kasih sayangnya, istri harus bisa memberikan pengertian kepada suaminya dan menjadikannya memahami hikmah yang baik di balik belum datangnya anak. Bisa jadi belum punya anak ini memang yang paling baik buat Anda berdua mengingat kesiapan untuk mendidik anak-anak menjadi sholih dan sholihah yang masih belum memadai. Sementara punya anak namun tidak sholih lagi durhaka tentu lebih menyengsarakan dan bisa menjadi penghalang pasutri untuk bisa senantiasa taat dan mendekat kepada Alloh azza wajalla.

Mungkin juga belum punya anak akan lebih baik daripada memiliki anak namun setelah terlanjur dicintai lalu Alloh menguji dengan mendahulukan ajal anak tersebut daripada orang tuanya sehingga orang tua tidak kuasa menerima cobaan ini.

3. Pupuk Ketakwaan Suami

Adapun bagi suami, hendaknya meningkatkan ketakwaannya kepada Alloh azza wajalla dengan menerima takdir memiliki istri yang belum juga bisa memberikan keturunan yang memang di luar kuasa mereka berdua. Jangan monoton melihat kekurangan istrinya ini, namun lihatlah kelebihan lain yang banyak pada dirinya sehingga ia akan dengan ringan menunaikan hak-haknya dan tidak menzholiminya.

4. Poligami Bisa Jadi Pilihan

Apabila suami berkeinginan kuat untuk menikahi wanita lain yang subur maka istri harus bersikap bijak. Istri jangan melihat dengan sebelah mata, jangan mengukur kecintaan suami hanya terbatas pada keturunan semata, namun berilah solusi yang baik buatnya, bahkan buat Anda berdua. Senantiasa ingatkan bahwa dia berkewajiban berbuat adil terhadap semua istrinya. Suami juga tidak boleh menzholimi istri pertamanya, ia harus tetap mencintainya dan menunaikan hak-haknya.

Seperti halnya seorang adik bila menikah mendahului kakaknya bisa menjadi sebab kakak akan segera menikah, maka bila istri kedua telah bisa memberikan anak, berdo’alah semoga istri pertama pun bisa segera menyusul  akan memberikan keturunan juga. Wabillahittaufiq


[1] QS. al-Anbiya’ [21]: 89-90

One response to this post.

  1. Assalamu`alaikum afwan ustad izin copas di blog ,bolehkah?jzk khr

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s