Seruan Keimanan Bagi Para Orang Tua

Ust Abu Ammar al-Ghoyami dan Ust Abu Hafshoh al-Buthoni

Studi kasus di lapangan menunjukkan sebuah grafik pada titik yang cukup memilukan. Karena ternyata tidak sedikit akibat buruk yang timbul dari lalai dan lari dari amanat serta tanggung jawab mendidik anak-anak ini. Terlepas dari segala latar belakang penyebabnya, yang jelas ini menunjukkan betapa bahayanya sebuah generasi yang tidak terdidik, bahaya bagi orang yang melalaikan tugas mulia ini, juga bahaya bagi masa depan anak-anak sebagai generasi umat ini juga.

Kalau kita mau menerjuni lapangan kiprah anak-anak yang nakal (baca: tidak terdidik), tidak jarang kita dapati penyebabnya adalah orangtua mereka sendiri. Mereka banyak yang haus nasehat orangtua, namun orangtua –apakah seorang bapak, juga seorang ibu– tidak menyirami anak-anaknya dengan nasehat-nasehat sebagai obat dahaga. Dengan atau tanpa alasan, ini adalah hal yang tidak benar. Sebab sepandai-pandai seorang anak, setinggi-tinggi kedudukannya, tentu ia sangat butuh nasehat orangtua, sebagaimana serendah apapun pendidikan dan kedudukan orangtua tentu memiliki sebuah kata nasehat.

Mungkin terkadang orangtua merasa remeh di mata anak-anaknya, sebab pendidikan anak yang lebih tinggi dan kedudukan status sosialnya yang lebih mulia, kemudian hal ini dijadikan sebuah alasan enggan memberi nasehat bagi anaknya. Atau bisa jadi ia menasehatinya namun berputus asa tatkala –dengan ketergesaannya– ia melihat nasehatnya tidak mendapat sambutan positif dari anaknya. Sehingga hal-hal yang salah yang dilakukan oleh anak tidak bisa dicegah, apalagi dibersihkan sama sekali dari mereka.

Di sisi lain, ada anak yang mau baik, ia meminta izin orangtuanya untuk menjadi anak sholih yang taat kepada Alloh, taat kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbakti kepada orangtua, ia hendak mendalami ilmu agama di sebuah lembaga pendidikan agama, sebut saja “pondok pesantren” atau lembaga pendidikan Islam yang lain. Namun, tidak jarang para orangtua tidak memberi izin anaknya tanpa alasan, atau dengan alasan yang jikalau direnungkan dengan seksama (ternyata) merugikan dirinya dan anaknya. Apabila ini dilakukan orangtua dengan alasan yang benar maka tidak perlu berkepanjangan kita membicarakan, namun tidakkah mereka memahami dua firman Alloh tersebut di atas, sehingga dia tidak mengizinkan anaknya? Ini yang harus dan perlu diingat dan senantiasa direnungkan. Beberapa hal tadi patut kita renungkan bersama, lalu secara bersama-sama pula mencari jalan keluar yang paling baik guna mewujudkan amal usaha yang paling baik seperti dikehendaki oleh Alloh dalam ayat di atas.

Mendidik di atas pokok tarbiyah Islamiyyah

Dan perlu diketahui, bahwasanya salah satu landasan utama dalam mewujudkan tarbiyah yang baik adalah pemahaman dan keistiqomahan orangtua di atas dasar-dasar tarbiyah Islamiyyah berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah. Keistiqomahan ini haruslah ditopang oleh adanya hubungan yang harmonis antara suami istri atau bapak dan ibu terutama, dan juga dengan anak-anak. Sepasang suami istri hendaknya mengawali usaha tarbiyah dengan dekat dan akrab dengan anak-anaknya. Kalau seandainya terpaksa berjauhan tempat, maka janganlah sampai berjauhan hati.

Kita ambil contoh, nafkah yang diberikan oleh suami untuk menghidupi keluarganya, apabila didapat dengan cara yang tidak syar’i, alias suami sudah tidak istiqomah dengan syari’at ini, maka ia merupakan awal kegagalan sebuah tarbiyah. Suatu keluarga akan sangat sulit untuk mewujudkan tarbiyah Islamiyyah yang baik, jika tidak ada kepedulian dalam hal usaha menafkahi anak-anaknya dengan harta yang halal.

Demikian juga, ketidakistiqomahan orangtua dalam memilihkan lembaga pendidikan bagi anak-anak mereka pun merupakan awal kegagalan suatu tarbiyah. Sebuah keharusan bagi orangtua untuk memilih lembaga pendidikan Islam yang mengenalkan kepada Islam yang benar, sesuai dengan tuntunan dan tuntutan Alloh dan Rosul-Nya. Sebab peran lembaga pendidikan bagi anak-anak sangatlah penting tatkala keluarga itu tidak lagi mampu mentarbiyah anak-anaknya di rumah mereka lagi. Karena itulah orangtua mempunyai tanggung jawab yang besar untuk memilihkan lembaga pendidikan Islam yang tepat bagi anak-anaknya, sehingga ia akan benar-benar berhasil mentarbiyah anak-anaknya dengan tarbiyah Islamiyyah yang baik.

Istiqomah di atas dasar-dasar tarbiyah Islamiyyah mengharuskan orangtua memahami makna tarbiyah yang sesungguhnya dan bagaimana tarbiyah tersebut dijalankan. Tarbiyah itu bersifat menyeluruh dan terus-menerus. Artinya aspek apapun dalam kehidupan seorang anak harus tertarbiyah dengan baik dan benar. Demikian pula, saat kapanpun dan pada umur anak berapapun tetap harus dilakukan tarbiyah itu pada mereka.

Kenyataan yang ada justru tidak sedikit kaum muslimn yang memahami tarbiyah dengan sangat cupet (terbatas,—red.), cupet aspeknya dan cupet pula saat kapannya. Tarbiyah bagi anak-anak tidak sebatas memberi mereka pembelajaran membaca al-Qur’an saja, praktek berwudhu sekaligus praktek sholat ketika di TPA saja. Ini artinya, aspek tarbiyah yang lainnya yang lebih penting justru tidak tersentuh, aspek aqidah yang lurus, akhlaq karimah yang harus ditanamkan pada diri anak-anak untuk segera diwujudkan oleh mereka dalam pergaulannya dengan lingkungan masyarakat sekitar, yang itu sangat kuat kaitannya dengan keistiqomahan orang tua pun tidak terwujudkan. Dan artinya pula, bahwa pada usia kanak-kanak saja anak-anak harus ditarbiyah, bahkan dengan tarbiyah yang sangat minim sekalipun. Sungguh sangat disayangkan inilah yang dipahami oleh sebagian kaum muslimin. Wallohul Musta’an.

Mestinya dengan sifatnya yang syamil mencakup seluruh aspek kehidupan dan lebih khusus aspek peribadatan seorang hamba kepada Alloh, semuanya harus tertanam dengan rapi dan tertib, kokoh menancap dalam kalbu dan tidak tergoyahkan. Bukankah peran keistiqomahan orangtua sangat utama di sini? Selain juga penanaman dan pentarbiyahannya pun tidak mengenal waktu maupun usia. Bahwa sejak sedini mungkin anak-anak sudah harus ditarbiyah, dan sampai kapanpun ia harus tetap ditarbiyah, bahkan Alloh menyebutkan:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan beribadahlah kepada Robbmu sampai datang kematian. (QS. al-Hijr [15]: 99)

Mendidik: Harus punya prinsip

Yang kami maksudkan adalah, hendaknya sebagai orangtua memilih prinsip dalam mendidik anak-anak mereka. Yaitu prinsip yang sudah terkonsep dalam syari’at Islam. Sehingga dengan prinsip tersebut orangtua tidak akan terombang-ambingkan oleh hantaman badai hiruk-pikuknya kehidupan. Hal ini mengingat terkadang orangtua tidak terlalu peduli terhadap pendidikan anak-anak mereka bukan karena mereka tidak sanggup, namun karena berdalih dengan apa yang kebanyakan ada di lingkungan masyarakatnya.

Alloh mengingatkan kepada kita bahwa prinsip “keumuman orang” atau prinsip “manut grubyuk” (bhs. Jawa) adalah prinsip yang keliru lagi berbahaya, Alloh berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (tentang Alloh). (QS. al-An’am [6]: 116)

Jadi kebanyakan apa yang ada di masyarakat atau yang umum ada pada kebanyakan orang itu bukanlah dalil sahnya sesuatu itu, bukan pula dalil bolehnya untuk mengikuti mereka. Akan tetapi, sekali lagi kami katakan, dengan itu Alloh menguji hamba-hamba-Nya, apakah mereka bersabar dalam pahitnya ketaatan kepada-Nya ataukah mereka memilih kelezatan kesesatan dalam kemaksiatan seperti yang kebanyakan terjadi. Sehingga prinsip mengikuti syari’at Alloh dan Rosul-Nya dalam mendidik anak-anak dan dalam segala hal adalah sebuah pilihan yang tepat bagi para orangtua. Waffaqonallohu waiyyakum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s