SOAL JAWAB; Bagaimanakah Cara Menghilangkan Sakit Hati??

SOAL :

Assalamu’alaikum…
Ustadz, sebagai manusia tentunya tidak lepas dari suatu permasalahan. masalah itu kadang2 membuat sakit hati. bagaimanakah cara menghilangkan sakit hati itu secara penuh dan ikhlas semata2 karena Alloh? padahal saya sudah memaafkan tetapi kadang2 sakit hati itu muncul kembali. mohon penjelasannya.
syukron, jazakallohu khoiron…

JAWAB :

Wa’alaikumussalam…
Ukhti, fillah. Memang benar, kita sebagai manusia tentu tidak luput dari masalah. Masalah kehidupan akan tetap ada selagi seseorang masih mendapati kehidupan. Masalah akan usai apabila sesorang telah hidup di alam kekekalan di surga kelak.

Dalam menghadapi masalah memang tidak sama antara satu orang dengan orang lain. Tergantung kedewasaan berfikir, tingkat pemahaman terhadap masalah itu sendiri, dan yang utama sekali ialah tingkat iman dan taqwa yang berbeda.

Sakit hati yang timbul di dalam hati kita akibat tingkah dan tutur kata orang lain selagi bukan kita sebabnya maka menurut ana itu bukan masalah. Justru itu hal yang akan mengurangi masalah. Bahkan pada suatu keadaan tertentu meski sebab sakit hati itu dari kita maka tetap saja bisa jadi bukan masalah. Bagaimana maksudnya?

Seandainya ada orang yang mencela kita, tidak harus celaan tersebut menjadikan hati kita sakit. Begitu juga tidak selamanya celaan patut dibalas dengan celaan. Sebabnya justru celaan yang datang adalah “nasihat” yang sangat berharga. Dengan adanya celaan kita bisa berbenah. Membenahi hati sehingga terbenahilah seluruh tingkah polah anggota badan dan luruslah seluruh tutur kata lisan. Bayangkan seandainya tidak ada orang lain yang peduli dengan kita, termasuk tidak mencela kita. Apakah kita akan bisa dengan mudah menyadari bahwa kita masih kotor dan berlumuran sifat serta prilaku yang tercela? Sehingga semestinya orang yang dicela bertambah takut kepada Alloh ta’ala, sebab selama ini ia belum juga bisa lepas dari sifat tercela. Buktinya, masih saja ada orang yang mencelanya.

Seandainya seseorang merasa telah bersih dari sifat tercela, sehingga ia merasa tidak patut dicela, dengan sebab inilah ia sakit hati, maka siapa penjamin penilainnya bahwa ia tidak memiliki sifat tercela? Apakah dirinya sendiri itu yang menilai bahwa ia tidak tercela sehingga ia merasa tidak pantas lagi dicela?. Perhatikanlah apa yang Alloh ta’ala firmankan berikut ini lalu hayatilah maknanya:

Dan hanya kepunyaan Alloh-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga). (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya. dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS. An-Najm: 31-32)
Seyogyanya kita kawatir. Bisa jadi penilaian orang bahwa dirinya telah suci itulah yang justru mematikan hatinya sehingga ia tidak bisa melihat lagi sifat tercela yang menumpuk dan menggunung pada dirinya. Sebab penilaian “suci’ pada diri sendiri merupakan penyakit ‘ujub yang mengikis habis kebaikan dan keikhlasannya.

Oleh karenanya, semua yang datang dari orang lain ke pada kita tidak selamanya menjadikan kita harus menderita dan sakit hati. Bila kita selalu sakit hati bila mendapati hal-hal yang menyinggung dan benar-benar memukul hati kita, bisa jadi sebab selama ini keikhlasan memang telah hampir tak lagi tersisa. Sebab seandainya hidup ini ikhlas hanya untuk Alloh ta’ala, maka takkan pernah ada kepedulian selain hanya peduli dari penilaian Alloh ta’ala. Karena Dia mengetahui yang lahir maupun yang disembnyuikan di dalam hati. Tentu Dia mengetahui baik dan buruknya diri-diri hamba-Nya, termasuk diri-diri kita. Sedangkan diantara kita, siapa yang mengetahui penilaian Alloh ta’ala atas diri kita? Termasuk kita pun tidak mengetahuinya. Bila demikian, bagaimana kita menyucikan diri kita sendiri di hadapan Alloh ta’ala?

Bila demikian, saat ada sesuatu yang menusuk hati, sebab memang hati kita pantas tertusuk, semestinya kita berterimakasih bukan malah sakit hati. Dan apabila kita merasa hati kita tidak pantas tertusuk, maka kita pun harus segera istighfar, memohn ampunan Alloh dari sifat ‘ujub yang tercela. Berarti sudah saatnya kita belajar memperbaiki kualitas ikhlas kita. Wallohul muwaffiq.

Artikel terkait:

Sakit Hati, Mengapa terjadi?

Husnuzh-zhon, sulitkah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s