Yang Harus Kita Ketahui Tentang “Sutroh” Orang Sholat

Permasalahan sutroh orang sholat merupakan perkara yang tidak diketahui oleh kebanyakan saudara-saudara kita, kaum muslimin. Bisa saja karena masalah ini memang tidak pernah diajarkan, atau karena jarang dan sedikitnya pengajian sunnah di negeri kita ini.

Sedikitnya pengajian sunnah inilah, menurut penulis, sebagai sebab tidak diketahuinya masalah sutroh, dan juga masalah-masalah lainnya yang sangat banyak, tidak diketahui oleh kaum muslimin. Tentunya ini merupakan akibat dari sedikitnya orang yang mau belajar sunnah sehingga bisa mengajarkan sunnah yang mulia ini. Ala kulli hal, bagaimanapun juga, kita patut memuji Alloh subhanahu wata’ala, sebab saat ini sekilas akan kita pahami masalah sutroh ini, dengan izin Alloh subhanahu wata’ala.

Apa itu sutroh?

Sutroh yang dimaksud dalam pembahasan kita ini, ialah suatu benda yang diletakkan oleh seorang yang sholat di hadapannya, misalnya berupa tongkat, kayu, bejana, atau sesuatu yang lain, dengan maksud sebagai pembatas tempat sholat.

Bersutroh Seperti Rosululloh

Sebagaimana diperintahkan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits:

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Maka dalam masalah bersutroh ketika sholat pun kita harus mengikuti dan meneladani Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersutroh?

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam apabila sholat, beliau berdiri mendekat sutroh sehingga jarak antara beliau berdiri dengan dinding (di depan beliau sebagai sutroh) ialah tiga hasta. (HR Bukhori 2/459, an-Nasai 1/122 dan Ahmad 2/138 dan 6/13)

Sedangkan jarak antara tempat sujud beliau dengan dinding ialah (hanya jarak yang) cukup untuk lewatnya seekor kambing saja. (HR Bukhori 2/455, Muslim 2/59, Abu Dawud 1/111 dan Baihaqi 2/272)

Fawaid (beberapa faedah)

1.      Agar sholat kita seperti Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang beliau perintahkan, maka kita sholat menghadap ke sutroh. Sebagaimana beliau juga sholat menghadap ke sutroh.

2.      Kita berdiri sholat mendekat ke sutroh kira-kira sejarak tiga hasta dari sutroh, sehingga kira-kira jarak antara tempat sujud kita dengan sutroh hanya secukup lewatnya seekor kambing saja. Sebagaimana dilakukan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam Memerintah Kita Sholat Bersutroh

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Janganlah kamu sholat melainkan menghadap sutroh. Dan janganlah kamu biarkan seorang pun yang lewat di depanmu (kecuali kamu cegah). Apabila ia tetap tidak pedulikan, hadang dan lawanlah (arus lewatnya), sungguh, ada qorin (setan) yang menyertainya.” (HR Ibnu Huzaimah di dalam Shohih-nya, Syeikh al-Albani dalam ashlu shifat sholat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  (1/115) mengatakan: “sanadnya jayid”)

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam Memerintah Kita Mendekat Sutroh

Disebutkan bahwa Rosululoh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian sholat menghadap sutroh, maka mendekatlah ia kepadanya, jangan sampai (dibiarkan) ada setan yang memutus sholatnya (dengan lewat di hadapannya).” (HR Abu Dawud 1/111, an-Nasai 1/122, Baihaqi 2/272 dan al-Hakim 1/251 dan beliau mengatakan: “Hadits ini shohih menurut syarat Bukhori dan Muslimi”

Fawaid:

1.      Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita sholat selain bersutroh, maka kita pun mendengar dan kita pun ta’at, sehingga kita tidak sholat selain bersutroh.

2.      Kita juga diperintahkan agar mendekat ke sutroh. Jarak antara kita dengan sutroh adalah seperti yang dicontohkan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam di atas.

Apa Saja Yang Bisa Dijadikan Sutroh?

Tentang masalah ini, marilah kita perhatikan beberapa hadits dari beberapa riwayat berikut:

Adalah Roslulloh shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang berusaha sholat (bersutrohkan) pada tiang yang terdapat (di tengah Roudhoh Mukarromah) di masjid beliau. (HR Bukhori 2/457, Muslim 2/59)

Tatkala beliau sholat Ied, atau tatkala safar, beliau sholat [di tempat terbuka yang tidak ada sesuatu pun yang beliau bisa jadikan sutroh], beliau menancapkan di hadapan beliau sebatang tombak lantas beliaupun sholat menghadap kepadanya sementara manusia (sholat) di belakang beliau. (HR Bukhori 2/454, Muslim 2/55, Abu Dawud 1/109, al-Baihaqi 2/269, dan Ahmad 2/142)

Dan terkadang beliau mendatangkan (unta) tunggangan beliau (di hadapan beliau, di antara beliau dan kiblat) lalu beliau pun sholat menghadap kepadanya. (HR Bukhori 2/459, Muslim 2/55, Abu Dawud 1/110, Tirmidzi 2/183, ad-Darimi 1/328, al-Baihaqi 2/269 dan Ahmad 2/2/26)

Dan terkadang juga beliau menjadikan seseorang tertentu lalu beliau tepatkan posisinya lalu beliau pun sholat menghadap punggungnya. (HR HR Bukhori 2/459, Muslim 2/55)

Suatu kali beliau juga pernah sholat menghadap sebatang pohon. (HR an-Nasai dalam sunan kubro no: 823 dan Ahmad  no: 1161 dengan sanad shohih)

Bahkan pernah juga beliau kadang-kadang sholat menghadap ranjang pembaringan Aisyah radhiyallahu anha sementara dia berbaring di atas ranjang tersebut [berkemul sebuah selimut]. (HR. Bukhori dan Muslim)

Suatu saat beliau pernah bersabda: ”Apabila salah seorang di antara kalian telah meletakkan benda sekadar dengan sandaran pada pelana onta di hadapannya maka sholatlah (mengahadapnya) dan jangan menghiraukan siapapun yang melewati belakangnya.” (HR Muslim 2/54, Abu Dawud 1/109, Tirmidzi 2/ 156-158, dan beliau menshohihkannya, Ibnu Majah 1/301, Baihaqi 2/269, dan Ahmad 1/161-162)

Fawaid

Dari beberapa riwayat yang disebutkan di atas bisa diambil beberapa faedah, antara lain:

1.      Perintah Rosululoh shallallahu ‘alaihi wasallam agar kita sholat dengan bersutroh bersifat umum. Artinya tidak dikaitkan dengan tempat tertentu saja. Tetapi di semua tempat pun kita tetap diperintahkan sholat dengan bersutroh.

2.      Yang bisa di jadikan sutroh di antaranya ialah tembok atau dinding;

3.      Tiang-tiang masjid, apabila sholat di masjid, atau tiang-tiang rumah dan semisalnya;

4.      Di tempat terbuka, bisa dengan m,enancapkan tombak, batang kayu, tongkat dan semisalnya;

5.      Onta, atau tunggangan lainnya, atau kendaraan. Untuk onta, maka apabila onta tersebut berada di tempat penambatannya, atau di kandangnya maka tidak boleh, sebab di tempat tersebut tidak boleh dilakukan sholat. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam melarang sholat di tempat penambatan atau kandang onta. (HR Bukhori dan Ahmad)

6.      Punggung orang yang ada di depannya;

7.      Sebatang pohon;

8.      Ranjang tempat tidur. Dan apabila istri berada di atas ranjang sedang berbaring maka harus ditutup dengan selimut, sebagaimana keadaan Aisyah radhiyallahu anha.;

9.      Sesuatu apapun yang seukuran dengan tingginya sandaran pelana onta. Dan ukuiran ini adalah ukuran tinggi benda yang mencukupi untuk dijadikan sutroh. Berdasarkan isyarat dalam hadits terakhir di atas. Juga berdasarkan hadits yang lainnya, yaitu tatkala perang Tabuk, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang sutrohnya orang sholat, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seperti (sandaran pada) pelana onta”. (HR Muslim di atas dan al-Baihaqi juga an-Nasai 1/122)

10.  Benda-benda yang bisa dijadikan sutroh beragam, bisa kursi, meja, buvet, lemari, tas koper, tempat tidur dan semisalnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s