Harmoni Langkah Pasutri

Menjadi pasutri muslim yang kompak tentu sangat kita idam-idamkan. Kompak dalam berbuat kebaikan, dan juga kompak dalam meninggalkan semua keburukan. Kebaikan-kebaikan akan sulit dilakukan apabila tidak ada kerjasama dan kekompakan antara pasutri. Berikut ini kiat menjadi pasutri kompak, alias menjadi pasutri yang melangkah bersama penuh harmoni.

Di dalam sebuah ayat al-Qur’an Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertaqwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya. (QS. al-Maidah [5]: 2)

Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala menuturkan: “Alloh subhanahu wata’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk saling tolong-menolong dan bahu-membahu dalam melaksanakan berbagai kebaikan, (melakukan berbagai kebaikan) ini adalah al-Birr. Dan (memerintahkan untuk saling tolong-menolong dan bahu-membahu) dalam meninggalkan segala kemungkaran, dan (meninggalkan serta menjauhi segala kemungkaran) ini adalah at-Taqwa. Sekaligus Alloh subhanahu wata’ala melarang para hamba dari saling bantu berbuat kebatilan, saling bantu melakukan berbagai perbuatan dosa dan yang diharamkan.”

Ibnu Jarir at-Thobari rahimahullahu ta’ala menjelaskan dengan mengatakan: “al-Itsmu adalah meninggalkan apa yang Alloh subhanahu wata’ala perintahkan untuk dilakukan. Sedangkan al-’Udwan adalah melanggar batas-batas yang Alloh subhanahu wata’ala telah tetapkan dalam agama kalian, dan melanggar apa yang telah Alloh subhanahu wata’ala fardhukan atas kalian pada diri kalian dan diri orang lain.”

Manusia, termasuk pasutri, dalam beraktivitas keseharian hanya ada dua penilaian, yaitu baik atau buruk. Kebaikan itu berupa al-Birr dan at-Taqwa sedangkan keburukan berupa al-Itsmu dan al-‘Udwan. Al-Birr dan at-Taqwa untuk dilaksanakan berdasarkan kesanggupan, sedangkan al-Itsmu dan al-Udwan untuk dijauhi dan ditinggalkan seluruhnya. Yang harus menunaikan al-Birr dan at-Taqwa tentunya termasuk para pasuti, demikian juga yang mereka termasuk hamba yang harus meninggalkan seluruh jenis al-Itsmu dan al-Udwan. Lalu bagaimana pasutri bekerjasama dan bantu membantu menunaikan kewajiban ini secara harmoni?

Pada masalah amalan kebaikan bentuk kerjasamanya berupa membantu pasangan anda untuk bisa melakukannya dan anda mudahkan urusannya, terlepas apakah urusan tersebut berkaitan dengan diri anda atau orang lain. Adapun dalam masalah keburukan bentuk kerjasamanya berupa anda memperingatkannya dan mencegahnya semampu anda diiringi dengan mengarahkannya agar meninggalkan keburukan tersebut. Begitulah, sehingga pasutri benar-benar bersatu padu secara harmonis dalam ta’awun yang diridhoi Dzat Yang Maha Tinggi.

Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir

Jami’ul Bayan fi Ta’wili Ayil Qur’an, Ibnu Jarir ath-Thobari

Syarh Riyadhush Sholihin, Ibnu Utsaimin

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s