Pedoman Halal Haram

Di dunia ini terdapat banyak sekali kenikmatan Alloh. Ada di daratan, ada di lautan, ada di sungai juga ada di udara. Namun tidak semua yang ada itu halal dan boleh kita nikmati. Artinya ada sebagian kecil dari sekian banyak hal yang ada di dunia ini yang diharamkan.

Tentang haramnya sesuatu maka Alloh subhanahu wata’ala yang berhak mengharamkannya. Hal ini sebab asalnya segala sesuatu itu dihalalkan oleh Alloh, sehingga tidak menjadi haram kecuali bila Alloh azza wajalla sendiri yang mengharamkan. Dan perlu diketahui, karena hukum asal segala sesuatu itu halal, maka Alloh tidak memerincinya. Adapun sesuatu yang haram, maka Dia azza wajalla telah memerincinya. Dia azza wajalla berfirman:

وَمَا لَكُمْ أَلاَّ تَأْكُلُواْ مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلاَّ مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ وَإِنَّ كَثِيراً لَّيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِم بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Alloh ketika menyembelihnya, padahal Alloh telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang kamu terpaksa memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Robbmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (QS. al-An’am [6]: 119)

Adapun tentang perincian sesuatu yang diharamkan maka telah disebutkan oleh Alloh azza wajalla di dalam al-Qur’an maupun melalui lisan Nabi-Nya di dalam hadits-haditsnya. Hal ini sebab pengharaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap sesuatu sama dengan pengharaman Alloh subhanahu wata’ala.

Imam Syafi’i berkata,” Asal hukum makanan dan minuman adalah halal kecuali yang diharamkan oleh Alloh dalam al-Qur’an atau melalui lisan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, karena apa yang diharamkan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sama halnya dengan yang diharamkan oleh Alloh.” (al-Umm, Imam Syafi’i, 2/213)

Pedoman yang Halal dan yang Haram

Kita harus mengetahui yang halal dari yang haram dan sebaliknya. Kita harus tahu yang halal untuk diambil dengan cara yang halal, dan mengetahui yang haram untuk kita tinggalkan. Untuk mudahnya, terdapat pedoman yang harus dipahami, yang dengannya kita bisa menetapkan sesuatu itu halal atau haram.

1. Asal segala sesuatu yang ada di bumi adalah halal.

Alloh azza wajalla telah menyediakan di bumi ini berbagai hal yang bisa diambil manfaatnya sebagai makanan maupun minuman. Bahkan Dia azza wajalla memperuntukkan seluruhnya bagi manusia. Dia azza wajalla berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia-lah Alloh yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (QS. al-Baqoroh [2]: 29)

Jadi, apapun yang ada di bumi, di daratannya maupun di laut dan sungainya, berupa sesuatu yang bisa diambil manfaatnya sebagai makanan maupun minuman oleh manusia, hukumnya adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya. (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 21/542)

2. Sesuatu yang halal dan baik akan tetap halal dan baik selagi didapat dengan cara yang halal dan baik pula.

Kita hanya diperintah untuk menikmati yang halal lagi baik, yaitu yang dihalalkan oleh Alloh subhanahu wata’ala bagi kita dan yang kita dapatkan dengan cara syar’i. Apabila ada sesuatu yang jelas tidak halal, semisal khomer, maka tidak boleh dinikmati. Atau apabila ada sesuatu yang halal namun didapatkan dengan cara yang haram, maka juga tidak boleh dinikmati sebab ia telah berubah menjadi haram dan buruk lagi kotor. (Syarah Arba’in an-Nawawiyah, Ibnu Utsaimin hlm. 164)

Kita ambil misal seseorang yang mendapatkan harta dan selainnya dengan cara menipu atau korupsi. Maka, meskipun yang ia bawa pulang ke rumahnya ialah berupa sesuatu yang dzatnya halal, seperti uang, beras, roti dan lainnya, maka menjadi haram sebab didapatkan dengan cara yang haram. Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil. (QS. al-Baqoroh [2]: 188)

3. Sesuatu yang haram dzatnya tetap haram meski didapatkan dengan cara syar’i dan halal.

Di antara sesuatu yang ada di bumi ini ada yang Alloh azza wajalla haramkan dzatnya, seperti khomer. Seandainya seseorang bekerja di ladangnya sendiri, lalu ia memetik buahnya sendiri lalu menjualnya di pasar, kemudian uang hasilnya ia belikan khomer dan ia bawa pulang; maka khomer tersebut tetap haram meski dia membelinya dengan uangnya sendiri.

4. Sesuatu yang halal bisa menjadi Haram.

Bahan makanan atau minuman yang asalnya halal bisa menjadi haram apabila didapat dengan cara yang haram atau tidak sesuai dengan syari’at. Misalnya dengan cara merampas dengan paksa (ghosob), mencuri, merampok, menipu, berjudi, berzina, meramal, profesi dukun, hasil usaha riba dan yang lainnya. Atau seorang pegawai, baik negeri maupun swasta yang korupsi, menipu atasan, berkhianat dan semisalnya.

Uang hasil jual beli yang asalnya halal juga bisa menjadi haram apabila menjual sesuatu yang haram, barang curian, dan sebagainya. Atau karena cara jual belinya saling merugikan, memaksa, ada unsur penipuan, baik menipu pembeli maupun menipu pemilik barang, ada unsur ribanya, seperti menjual emas dengan emas tapi tidak sama ukuran dan timbangannya, atau menjual alat-alat musik, kaset-kaset atau VCD musik dan nyanyian, menjual gambar-gambar makhluk hidup bernyawa, menjual barang untuk dibuat kemaksiatan, dan semisalnya.

Seluruh nafkah suami dari usaha dengan cara yang tidak sesuai syari’at seperti di atas dan hasil jual beli yang juga tidak sesuai dengan syari’at seperti di atas tidak boleh dinikmati, baik dimakan maupun diminum, juga dihidangkan, sebab hukumnya haram.

Wallohu a’lam.

 

 

 

 

One response to this post.

  1. Posted by ay on 04/06/2011 at 7:21 am

    assalmualainkum…
    mau nanya ni, tentanmg masalah halal dan haram.
    seandainya teman saya lagi makan babi & anjing.
    selesai makan mereka mencuci tangan.
    kemudian langsung memegang barang-barang kita
    apakah barang tersebut sudah termasuk barang yang sudah tergolong haram atau terkena najis.?
    kalu iya, tolong di beritau bagaimana cara menghilangkan barang tersrebut dari yang haram atau nejis menjadi bersih kembali.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s