Pentingnya “Qolbun Salim” Dalam Rumah Tangga

Qolbun—atau sering disebut kalbu—dalam bahasa Indonesia berarti jantung, sehingga jantunglah yang dimaksudkan oleh ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits tatkala menyebut kata qolbu (dalam bentuk tunggal) ataupun kata-kata qulub (yang merupakan bentuk jamaknya). Namun kemudian kata qolbu ataupun qulub lebih sering diterjemahkan dengan hati meskipun kenyataannya antara jantung dan hati itu sangat berbeda sifat-sifat maupun peranannya. Pembahasan tentang hati kali ini pun yang kami maksudkan adalah pembahasan tentang jantung, kita gunakan kata hati untuk menerjemahkan kata qolbu di sini dan tidak menggunakan terjemah aslinya yaitu jantung, hanya untuk memudahkan pemahaman sebab memang kata hati ini lebih dikenal oleh masyarakat kaum muslimin.

Al-muhim, hati adalah organ tubuh yang sangat urgen peranannya dalam tubuh seorang hamba. Imam Bukhori rahimahullahu ta’ala dalam kitab Shohih-nya meriwayatkan sebuah hadits yang shohih di mana Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ.

“Ketahuilah bahwa di dalam jasad ini ada sekerat daging, apabila ia baik maka akan baiklah seluruh jasad, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad, ketahuilah ia adalah jantung (hati).” (HR. Bukhori)

Begitulah peranan hati dalam jasad seorang hamba. Yang harus kita sadari bahwa hati ada yang baik, artinya sehat dan selamat dari berbagai penyakit hati, dan ada pula yang tidak baik yaitu yang sakit sebab tertimpa berbagai penyakit hati. Alloh menyebutkan sebagian fenomena hati yang sakit, di antaranya hati yang tertimpa penyakit nifaq/kemunafikan dalam firman-Nya:

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Alloh penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS. al-Baqoroh [2]: 10)

Ayat di atas hanya salah satu dari sekian banyak ayat yang menetapkan adanya hati yang sakit. Yang harus kita renungkan, bagaimanakah kiranya bila hati seseorang sakit atau ditimpa penyakit, maka apakah kiranya yang akan terjadi pada jasad? Sudah pasti jasad pun akan tidak baik. Lalu bagaimana bila penyakitnya semakin lama semakin parah? Maka bisa jadi hati itu akan mengeras, atau bahkan mati dan tidak berperan lagi, sehingga bisa dipastikan jasad pun tidak akan ada kebaikannya, nas’alullohal afiyah wassalamah. Sebagaimana Alloh subhanahu wata’ala telah menegaskan:

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. (QS. al-Baqoroh [2]: 74)

Sebagaimana yang sudah kita ketahui, bahwa Islam sangat memperhatikan kebaikan agama dan akhlaq para calon pasutri. Hal ini disebabkan baiknya agama serta akhlaq seseorang itu merupakan baik dan selamatnya hati orang tersebut dari penyakit hati. Ini mengisyaratkan akan arti pentingnya qolbun salim—yaitu hati yang selamat dari penyakit-penyakit hati—dalam membentuk rumah tangga yang Islami, agar berjalan di atas asas mawaddah dan rohmah sehingga bisa menggapai sakinah. Selain itu juga mengisyaratkan adanya sebuah anjuran bagi setiap diri agar berusaha memperbaiki dan memelihara kebaikan hati dengan mengenali penyakit-penyakit hati sekaligus terapi pengobatannya, sebagai usaha memperbaiki agama dan akhlaq diri, untuk menuju kebaikan agama dan akhlaq diri yang mulia lagi tinggi.

Wallohu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s