Para Salaf dan Nasihat

Alloh Azza wa Jalla berfirman (yang artinya):

Maka Sholih meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanah Robb-ku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (QS. al-A’rof [7]: 79)

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya):

“Sesungguhnya agama adalah nasihat, agama adalah nasihat, agama adalah nasihat.” Para sahabat bertanya: “Untuk siapa, wahai Rosululloh?” Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Alloh, demi al-Qur’an, demi Rosul-Nya, demi para pemimpin kaum muslimin, dan demi kaum muslimin seluruhnya.” (HSR. Abu Dawud: 4944, an-Nasa’i: 4199, dishohihkan oleh al-Albani)

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (artinya):

“Hak seorang muslim atas sesama muslim di antaranya ada enam hal; ……dan apabila ia meminta nasihat maka nasihatilah ia…” (HR Muslim: 2162)

Dari Isma’il berkata: “Telah bercerita kepadaku Qois bin Abi Hazim dari Jarir bin Abdillah rodhiyallohu’anhu berkata; ‘Aku berbai’at kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk tetap setia di atas menegakkan sholat, menunaikan zakat, serta menasihati setiap muslim.” (HR. Bukhori: 57 dan Muslim: 56)

Di antara hikmah para salaf ialah sikap mereka terhadap nasihat. Mereka saling menasihati. Mereka lapang menerima nasihat.

Dari Muhammad bin Manshur dari Ali bin Madini dari Sufyan berkata: “Tholhah mendatangi Abdul Jabbar bin Wail. Tatkala itu dia berada bersama manusia. Lalu Tholhah pun merahasiakan (sesuatu) kepadanya lalu pergi. (Setelah Tholhah pergi) Sufyan berkata: “Apakah kalian tahu apa yang telah dia katakan kepadaku? (Tholhah) telah mengatakan (kepadaku): ‘Kemarin aku melihatmu sedang menoleh sedangkan kamu dalam keadaan sholat.’” (Roudhotul Uqola’, Ibnu Hibban, hlm. 197)

Dari Ibnul Mubarok berkata: “Dahulu seseorang (para sahabat) apabila melihat pada saudaranya terdapat hal yang tidak ia sukai ia pun memerintahkannya atau melarangnya dengan sembunyi, sehingga dia diberi pahala atas rahasia dan larangannya (dari sesuatu yang tidak disenangi). Adapun hari ini, apabila seseorang melihat apa yang ia tidak sukai, ia membuat marah saudaranya dan ia sebarkan aibnya.” (Roudhotul Uqola’ hlm. 197)

Fudhoil bin Iyadh berkata: “Seorang yang beriman akan merahasiakan dan menasihati, sedangkan pelaku maksiat ia akan beberkan (aib) dan akan menjelek-jelekkan.” (Jami’ul Ulum wal Hikam: 77)

Dengan demikian, para salaf sangat beruntung dengan nasihat. Yang lebih tua tidak merasa risih dengan nasihat yang lebih muda. Demikian juga sebaliknya. Dan mereka menerima nasihat dan berterima kasih kepada pemberi nasihat. Tidak sebagaimana hari ini, apabila ada seseorang yang menasihati saudaranya tentulah saudaranya justru akan memperhatikan aib-aibnya untuk dilecehkan dengannya.

Lalu di mana hikmah kita posisinya saat dihadapkan pada hikmah salaf kita?

_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s